Assalaamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh...

Assalaamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh...
Awali segalanya dengan niat tulus,,,

Rabu, 30 Maret 2011

Ini tentang ayah saya

Assalamu'alaikum,,, selamat pagi...
Semoga berkah hari ini menjadi bagian dari karunia Allah yang tak akan teringkari.
Subhaanallah, Maha Suci Allah yang menciptakan hidup dan mati.
Suka tidak suka, mau tidak mau, ketika Allah berkehendak maka bukan hal sulit bagi Allah untuk membuat sesuatu menjadi ada, seperti halnya membuatnya tiada. Tak ada kekuatan apapun yang bisa menolak, dan tidak ada perkara apapun yang sanggup menahannya.
Ketika anak ketiga saya berusia 2,5thn, saya membandingkannya dengan keberadaan saya, pada usia yang sama, saya sudah tidak lagi merasakan kasih sayang ayah saya.
Ketika saya berusia 25thn, saya menyelami keadaan ibu saya pada usia yg sama,dia harus merelakan orang yang selama ini menjadi satu-satunya tumpuan harapannya, partner yang diharapkan mampu menemaninya membesarkan anak-anaknya, penyuplai energi dan materi yang menjadi bekal kehidupannya selanjutnya dan tentu saja, jalan menuju syurga yang mana disetiap pelayanannya akan bernilai pahala. Ya, dia harus melepas ikhlas satu-satunya orang yang amat dia hormati dan cintai, saya memanggilnya AYAH....
Saya sering cemas ketika suami saya menginjak usia 39thn, ada ketakutan, ada trauma dan kekhawatiran, karena pada usia itu Allah memanggil ayah saya menghadap-NYA,( buat suami saya, miss you yah, jaga kesehatan yaa....!===bersyukur kami melewati semua, dan Allah masih bersedia memberi karunia sehat, nikmatnya rejeki,,,,semoga semua menjadi berkah, Amien! ) Saya tahu segala umur, jodoh, rezeki berada di tangan Allah, utuh! sehingga Taqdir sangat sulit ditebak.

Tidak terlalu banyak cerita yang bisa saya gambarkan tentang keberadaan ayah saya, karena untuk mengingat wajahnya saja teramat sulit saya lukiskan.  Dia sangat tampan, gagah, tinggi kekar, kulit putih bersih, rambut ikal hitam mengkilat, dengan jenggot dan sedikit kumis menghiasi wajah maskulinnya (semoga ini tidak berlebihan) itu kata orang yang mengenalnya.
Dia sangat penyabar, santun dalam berkata-kata, sosok ayah yang sangat penyayang pada anak-anaknya, selalu menyempatkan diri bermain dengan anak-anaknya, mengajak kami berjalan-jalan, ke-empat anaknya sambil menggendong, bahkan dua anak sekaligus, menuntun, mengasuh, menyuapi, ''Yaa Allah,,,andai ini bisa terulang...!'' Sosok suami yang selalu mengerti dengan kesibukan istri, tak segan-segan ikut menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, bahkan sering mengambil-alih tugas istrinya ( yang kadang-kadang banyak suami mengabaikan hal iini) begitu cerita ibu saya. Ah,,,betapa bahagianya keluarga kecil ini.
Belum lagi ketika mendengar cerita teman-temannya, Ayah saya, sosok  manusia cerdas hasil didikan alam (meminjam istilah Andrea Hirata utk Lintang), sekolah tidak tinggi tapi sanggup menggantikan peran guru ketika berhalangan masuk, mengajari teman-temannya. seorang humoris penuh setia kawan,  sosok mandiri yang jauh dari kecukupan materi.  Laki-laki sholeh yang sempurna, Rahimahullah!

Jujur saya iri mendengar kedekatan mereka (teman-teman ayah saya) dengan ayah saya, saya iri pada siapapun yang tahu banyak tentang ayah saya, saya iri pada siapapun yang sempat mengenal ayah saya, tapi saya selalu rindu untuk mendengar cerita-cerita mereka lagi, seperti kerinduan saya pada kehadiran ayah saya, saya tidak mengerti betapa Allah sangat tega mengambilnya ketika saya belum bisa mengingat sosoknya, mengapa Allah tidak membiarkan saya bisa mengenalnya lebih jauh dulu, membiarkan saya bisa bertumbuh lebih lama lagi dengan dia, saya ingin sekali berangkat sekolah diantar oleh ayah saya, bukankah sangat mudah bagi Allah untuk membiarkan ayah saya hidup lebih lama???  ( saya menangis, meratapi diri, tapi... Ampun Ya Allah, itu dulu,,,sebelum hamba mengetahui keajaiban taqdir...)

Tgl 4 Syawal 1400H, pukul 03:30, ayah saya bangun untuk makan sahur, dia sedang menjalankan puasa sunnah bulan syawal, dan ini hari ketiga-nya, ibu saya menyediakan dan menemaninya makan sahur, selesai sahur ayah saya berangkat ke masjid yang kebetulan tidak jauh dari rumah hanya berjarak 50meter, sampai selesai sholat subuh. Kebiasaan dikampung saya dulu, seusai sholat subuh jalan raya akan ramai oleh orang-orang yang baru pulang dari masjid, dimana jalan masih sepi kendaraan, orang-orang berjalan beriringan, sekedar bershalawat, sambil ngobrol dengan temannya atau sekedar meregangkan otot...(hmmm,,,kumpulan orang sholeh, insyaallah)
Ayah sayapun sering melakukan hal yang sama, tapi sebelumnya dia menyempatkan diri pulang kerumah dulu, mengambil anaknya yang sudah bangun... saat itu baru saya dan kakak saya yg kedua sudah bangun tidur, ayahpun mengajak kami jalan-jalan,,, (andai saja Allah memberi saya kesempatan utk bisa mengingat ini, mungkin ini akan jadi ''jalan-jalan'' termanis dalam masa kecil saya).
Pulang jalan-jalan itu, ayah mengajak kami tidur lagi, dan sebelumnya sempat berpesan pada ibu saya, ''tolong bangunkan saya agak siang, karena sedang puasa jadi tidak perlu sarapan dulu''...( hari itu adalah hari pertama ayah saya kerja setelah libur lebaran), ayah saya tidur dengan posisi miring, memeluk anak-anaknya.
Pukul 07:30, ibu saya membangunkan ayah saya,,, memanggil, menggerak-gerakkan badan, bahkan sampai memukul dengan guling... tak bergerak, tak ada suara, hening, ,, ibu saya gemetar, kaku, takut, kaget...
Allah sudah mengambilnya, memanggilnya menuju kantor yang lain, menemui singgasana yang lain,,,, dan tanpa sakit...!!!saya tidak bisa membayangkan perasaan ibu saya saat itu, saya tidak menangis, karena sejatinya saya tidak mengerti yang terjadi....
Ya Allah, kenapa Engkau mengambilnya cepat, kenapa Engkau tidak memberi kesempatan kami berjalan-jalan subuh lagi esok hari, kenapa Engkau tidak memberi kesempatan kami lebih lama lagi bersamanya,,, Ya Allah,,,ayah saya belum sempat mengantar kakak sulung saya menjelang hari pertama sekolahnya, ayah saya juga belum sempat mendaftarkan kakak kedua saya, masuk TK, saya belum sepenuhnya sanggup mengingat sosoknya,  bahkan ayah saya belum sempat mengajari anak laki satu-satunya mulai menapaki kakinya ke tanah, dia masih terlalu kecil baru menginjak usia 7bln....
 Tapi sekarang saya mengerti,  Allah pasti lebih menyayangi beliau daripada kami anak-anaknya, Allah lebih bisa mencintai lebih dari cinta ibu saya, Allah jauh lebih memperhitungkan segalanya daripada perhitungan kami keluarganya,,,karena seutuhnya ayah saya adalah milik Allah, dan Allah lebih berhak atas apapun...!!!
         

      **********************()()()()()()()()()()()()()()()()()**************************


  Saya menulis posting ini bukan untuk bersedih-sedih, atau mengajak orang untuk lebih mengorek jauh tentang saya, tapi,,,saya lebih ingin mengingatkan diri saya dan kita semua, bahwa Taqdir Allah adalah mutlaq, DIA bisa mengambil apa saja yang menjadi milik kita, bahkan yang paling kita sayangi sekaligus....
Maka sayangi dan hargai apa yang menjadi milik kita hari ini,
Buat semua yang masih dikaruniai kesempatan bersama ayah,
sayangi beliau... hormati keberadaannya ...!!!
(jujur, saya iri pada kalian yang bahkan sudah menjadi orang tua tapi masih memiliki orang tua lengkap)......
Allahummaghfirlahu warhamhu wa 'aafihi wa'fuanhu...
Semoga ayah mendapat tempat yang indah disana,,, Amiin
    

**buat ibu terhebat saya
            Love you so...
read more "Ini tentang ayah saya"

Minggu, 27 Maret 2011

Ketika Bedah Caesar Menjadi Pilihan

Melahirkan adalah proses akhir dari kehamilan yang sukses manusia, yang menghasilkan seorang bayi yang dilahirkan.  Dan melahirkan secara normal adalah impian setiap ibu hamil, bahkan akan terencana jauh sebelum kehamilan itu sendiri.
Ketika kita bertemu dengan teman, keluarga, atau siapapun yang tengah hamil dan kita menanyakan, ingin melahirkan normal atau di operasi? Jawabnya, normal!
  Mungkin karena doktrin, bahwa seorang ibu akan benar-benar menjadi ''sempurna'' ketika ia mampu berjuang dalam pergulatan rasa sakit yang teramat sangat, dengan pertaruhan hidup dan mati, yaitu melahirkan secara normal ( padahal saya yakin ''itu'' bukan satu-satunya cara untuk bisa mempertahankan predikat  ibu sempurna ).
Bahwa melahirkan normal menjadi impian hampir semua ibu hamil, itu tidak bisa dipungkiri,
saya tidak ingin  mengatakan semua, karena  ternyata ada juga yang tetap ingin di''caesar'' kendati tidak ada indikasi apa-apa yang menyebabkan dia tidak bisa melahirkan ''normal.
Beberapa tahun yang lalu seorang teman saya bercerita pada saya ( pada saat itu berbarengan dengan kehamilan saya yang kedua, dan kehamilan yang pertama bagi teman saya itu), dia mengatakan bahwa dia tidak ingin melahirkan normal, alasannya, karena takut sakit!!!.
Saya berusaha meyakinkan dia bahwa melahirkan itu adalah sesuatu yang sangat lumrah bagi wanita terlebih melahirkan secara normal, ini bukan suatu penyakit, kendati untuk melewatinya memang benar-benar sakit. Saya bilang, anggep saja seperti bisul (iiihh,,,sinonimnya kok cetek amat yak...) yang pasti akan membesar, pecah dan setelahnya menjadi ringan.
Anda tidak akan percaya dengan keajaiban besar yang bisa anda lewati dengan sukses,,, dimana seorang anak adam dan bernyawa, keluar dari rahim anda sendiri, yang sebelumnya telah lelah anda rawat dan melekat erat dalam jasad anda, selama 9 bulan, bukan waktu yang singkat, mulai dari setetes mani, menjadi segumpal darah, lalu berkembang menjadi,janin yang dari hari kehari semakin membesar, tak lupa harus disuplai dengan berbagai makanan bergizi, protein tinggi, tentu saja dengan pemeriksaan rutin kedokter kandungan atau bidan, sekedar ingin tahu perkembangan, dan kesehatannya.... Yaah, makhluq yang semakin hari semakin keras saja menendang dinding perut anda, semakin membuat anda susah bernafas panjang, penasaran, seperti apa dia nantinya, dan tentu saja selalu mendoa, agar kelak menjadi anak sholeh yang selalu membanggakan semua orang.... AMAZING... (Insyaallah, kita semua bisa melewati ini...)

Tapi dia (teman saya) tetap bersikeras, selalu dengan alasan takut, ''toh juga dibayarin kantor suami ini'', begitu selorohnya, Ya sudahlah! akhirnya dia melewati bedah caesar.
Lanjut, 3 tahun berselang, teman saya ini hamil lagi, kali ini dia ingin sekali melahirkan normal, ''pengen juga sih ngerasain jadi ibu sempurna'' hmmm,,,alasan klasik!
Tapi apa boleh dikata, ternyata bayi yang dikandungnya kembar dan dengan posisi berbalik, artinya, janin yang satu dengan posisi kepala diatas yg satunya dibawah, dan dengan tegas dokter bilang "sangat riskan untuk bisa lahir normal'' Ironis... Sikembarpun lahir dengan proses yang sama, Caesar...  
Tiga anak dengan kelamin yang sama, perempuan...Diapun ingin hamil lagi, berharap kali ini anaknya laki-laki, dan masih dengan harapan juga ingin melahirkan normal. masuk usia kehamilanya ke 9 bln, takdir berkata lain, Tensi darahnya tinggi, akhirnya sudah bisa ditebak, caesar lagi, tapi masih beruntung, kali ini anaknya laki-laki... namun tekadnya untuk bisa melahirkan normalpun sia-sia. (anak bungsunya lahir, bertepatan dengan kelahiran anak saya yang ke-empat, bedanya, saya tetap bisa melahirkan normal,,,Alhamdulillah!!)
Begitulah, semua tidak pernah lepas dari kehendak ALLAH semata....

Well, setelah berpanjang lebar dengan kondisi teman saya tsb,
masih banyak lagi penyebab seseorang harus menjalani operasi caesar : posisi nyungsang, tidak ada bukaan, kontraksi tidak teratur, kehabisan air ketuban, faktor usia, rangka pinggul kecil ( mungkin klo yg ini emang kudu dioperasi, jika janin lebih besar drpada rangka pinggul) dan masih banyak lagi.
Tapi, terlepas dari keadaan diatas, ada juga seorang ibu yang harus menjalani caesar karena kepentingan bisnis dokter itu sendiri ( misalnya, karena klinik bersalin adalah milik pribadi dokter tersebut, isu ini beredar dan nyata terjadi pada sebuah klinik yang berjarak hanya beberapa ratus meter dari tempat tinggal saya) Jadi dengan sedikit saja indikasi yang agak menyulitkan proses kelahiran normal, maka si dokter  langsung dengan tindakan singkat "harus di caesar''.
Ini terjadi pada teman saya yang lain, seminggu menjelang HPL, dokter mengatakan bahwa janin tidak tepat berada diruang obligasi, beberapa derajat miring ke kanan, padahal semenjak kehamilan 0-9bln dia memeriksa pd dokter yg sama ( dokter yang saya sebut diatas) dan sudah bisa ditebak vonisnya, dengan rasa sedih dia bercerita tentang ketakutannya menghadapi operasi, saya menyarankannya untuk mendatangi seorang dukun urut bayi, dan diapun setuju, saya mengajaknya ke seorang dukun urut bayi untuk sekedar di''benarkan'' posisi janinnya, (karena entah kenapa, saya selalu merasa perlu melakukan ini ''urut hamil'', bahkan sampai kehamilan ke-empat) menurut si dukun urut, memang benar janin agak miring tapi masih bisa di''benerin'', dan sama sekali tidak perlu operasi...Lega sekali rasanya, ketika melihat dia bisa melahirkan normal tepat pada waktu yang sudah diperkirakan...meskipun dia harus pindah ke dokter kandungan yang lain.
Kegigihan, kesiapan, dan keberanian menghadapi ''kelahiran'' juga berpengaruh kuat pada proses kelahiran itu sendiri, ada ibu yang menyerah begitu saja dengan keputusan dokter, tapi tidak sedikit yang merasa perlu melakukan  ''second opinion'', ada juga yang dengan amat sangat kuat melewati masa sakit mejelang kelahiran dan dengan tegas menolak saran dokter untuk di''caesar'' kendati merasakan sakit sampai tiga hari, bayangkan, dengan kontraksi terus-menerus, sakit yang luar biasa, sampai tiga hari, Subhaanallah!! karena dia sangat yakin bahwa dia bisa melahirkan normal (salut buat mama Sarah, perjuangan yang luar biasa! ).

Melahirkan, apapun jalannya ( beruntung sekali rasanya saya bisa melewati empat kali proses kelahiran dan semua normal, Alhamdulillah, karunia terindah yang Allah percayakan buat saya) tetap merupakan kemulyaan bagi seorang wanita, dimana Allah sudah nyata menjanjikan syahid bagi wanita yang melahirkan.
Peran aktif suami,  kasih sayang, perhatian, dan dukungan penuh akan sangat membantu selama proses kehamilan sampai kelahiran, dan yang menjadi PR kita selanjutnya adalah bagaimana kita  bisa sepenuhnya melewati, menikmati, mensyukuri peran kita setelahnya yaitu menjadi ibu yang tentunya tidak mudah.
     ============================================================

Tulisan ini dibuat, tidak berdasar pada karya ilmiyah, hanya berdasar pada pengalaman pribadi, dan teman, jadi, jika ada kesalahan dan kekeliruan mohon diluruskan, semoga bisa menjadi pelajaran buat semua.

     "Buat teman, saudara, kerabat yang saat ini tengah hamil, atau setidaknya ingin hamil lagi,
       semoga Allah memudahkan, melancarkan, dan menyehatkan, kondisi ibu juga bayinya,
       Dan menjadikan anak-anak kita, anak yang sholeh dan sholehah, selalu menjadi ''qurrataa'yun''
        Dan menjadi aset berharga, pendo'a handal kita setelah ketidakberadaan kita. Amien
           Rabbanaahablanaaminashshoolihiin.....
read more "Ketika Bedah Caesar Menjadi Pilihan"

Senin, 21 Maret 2011

Telepon Nyasar

Pagi, saat tersibuk bagi saya terutama pada hari sibuk: senin-jum'at kadang sampai minggu (kalo anakku sedang ada kompetisi bola, dan giliran main pagi), bangun jam 5 subuh, ga boleh ada kata malas utk saat ini. Malas pada jam segini, bisa berantakan semua sampai sore. bangun, sholat subuh, do'a-do'a dikit...(Ampuni Ya Allah, hamba ga bisa berlama-lama utk jam segini, please!),
bangunin anak, menyiapkan sarapan alakadarnya, kenapa alakadar?, karena terkadang  cuma pake ayam goreng yg udah disiapin dr malam, ato sekedar dadar telor, nughet, mie pake telor, malah kadang-kadang sisa lauk semalam, bagi kami sarapan bukan makan besar yang harus komplit, yang penting perut terisi, dan anak-anak ga loyo nerima pelajaran, itu sudah cukup ( iya, saya tau paham ini salah, tapi anak-anak biasanya juga ga mau klo pagi-pagi harus makan lengkap bahkan dengan sambel goreng...:untuk memudahkan mamahnya juga siiiihh, hehehe).
Tiga orang anak dengan tiga jam masuk sekolah yg berbeda ( yang paling kecil belum mulai sekolah), anak yang kedua berangkat jam 06:00, sekolah di DKI yang notabene lonceng berbunyi jam 06:30, dan berhubung jarak sekolah dgn rumah lumayan jauh jadi berangkat harus lebih pagi. Anak saya yang pertama berangkat jam 06:30, setengah jam lebih lambat karena ketentuan DIKNAS Bekasi masih jam 07:00 untuk bel masuk. Lalu anak saya yang ketiga, berangkat jam 07:00, karena sekolah di SDIT, masuknya jam 07:15.


Pagi itu, hampir setahun yang lalu ( bulan apa saya lupa, tapi inget hari kamis), semua berjalan seperti biasa, menyiapkan segalanya, nganter sekolah, mampir kepasar dulu, belanja untuk keperluan dapur, sampai pada saat saya pulang nganter sekolah, saya tengah bersiap-siap untuk menyuapi si bungsu, sikecil rada susah makan, jadi kudu pinter-pinter mengalihkan perhatiannya, misalnya mesti ma'em sambil nonton TV, baru aja duduk, nyalain TV, telepon bunyi dan terjadi dialog antara saya dengan ''sipenelepon'' (sebut aja begitu)......

KRRRRIIINGG, smp 3kali...
Saya: haloh,,,, ( rada males, siapa juga pagi-pagi udh mengganggu, suami? ga mungkin sepagi ini..)

Sipenelepon: Halo Mami,,,( mami?? sejak kapan sy berubah nama? belum sempat sy nanya...besuara lagi)
                    Haloo,,,ini Mi, dari yang semalem pesen anak itu, dia masih sama saya sekarang, tapi biarin aja dulu deh   disini, biar istirahat, kasian sepertinya dia kecapekan, mau saya telponin ke sekolahnya, mintai ijin, ga usah masuk sekolah aja hari ini, mau saya pake lagi nanti sore, saya mau tinggal kerja dulu....
( ni orang nyerocos ga ada titik koma,,,)

Saya: Halo ini dari siapa,,,( segitu panjangnya dia ngomong, sy blm sempat tanya, dan saya belum mengerti arah pembicaraannya kemana,,,)

Sipenelepon: Ini dari Om Dedy Mi,,, yang kemaren booking anak SMP itu loh,

Saya: anak SMP mana? (sepertinya saya mulai paham arah bicaranya)

Sipenelepon: katanya sih, dari SMP Pelita Harapan Bekasi, baru kls 2, kayaknya masih 14thn....
(dia lanjut lagi)  begini loh Mi, saya kan pake dr semaleman, mungkin dia capek, jadi bangun tidur lemah banget, apalagi saya senengnya ''main belakang'' mungkin dia ga kuat,,,,
(Astaghfirullah,,,,saya seperti di tampar, seperti merasakan gempa dahsyat berkekuatan super, semuayg sy lihat tiba-tiba saja menjadi bergejolak, beterbangan liar tanpa arah,  mata menjadi gelap, pusing, dan mungkin sesaat lagi saya pingsan, tak sanggup berkata-kata...**alah lebay lu** tapi sumpah, saya gemeter, ==bahkan saat nulis ''ini''pun sempat bergetar==
Ya Allah, makhluk apa yg menelepon saya pagi-pagi begini, disaat saya sedang ini berduaan dengan sikecil, disaat saya ingin menemaninya menonton kartun kesayangannya,,,,  saya berharap ''ini'' oarang gila, yg berhalusinasi tinggi,,, atau orang iseng yang hanya sekedar ingin membuang bonus pulsa,sesaat kemudian, dia lanjut....)
Gini Mi, biarin aja dulu dia istirahat, saya mau telponin ke sekolahnya, mau mintai ijin, nanti sore mau saya pake lagi, masalah harga nanti saya hubungi mami lagi, (Astaghfirullah,,,saya ga tau ini ''istighfar yg keberapa), kalo dipake terus kasian juga masih terlalu kecil,,,( nah elo kagak punya otak, udh tau anak kecil, lu embat juga,,,pikirku...)
Saya: terus sekarang maunya apa?? ( saya pura-pura menjadi mami beneran)
Sipenelepon: ya cuma ngasi tau aja, takutnya dicari...(persis seperti kalimatnya diatas, dia bahkan mengulang sampai 3 kali,, penegasan! ya, penegasan,,,dan jika berlama-lama ini bisa membuat saya pingsan beneran)

Saya: ini dari siapa tadi, maaf...? (saya sudah sangat muak, mendengar ocehannya, dan ingin  bersegera mengakhiri pembcaraan ''laknat'' ini...

Spenelepon : dari Om Dedy,,,(sepertinya dia ingin nyerocos lagi, tapi saya buru-buru memotong pembicaraan...)

Saya: maaf pak, bapak dari tadi bicara seperti orang yg tidak lahir dari rahim, apa bapak punya ibu? anak perempuan, ato saudara perempuan??? bapak sudah salah sambung...
Sipenelepon: Oh, eh, eeee,,,aaa,,,klik!!!
(dengan terbata-bata mungkin kaget, krn sudah terlanjur ngomong banyak) telepon ditutup....

AllahuAkbar,,, saya masih gemetar, seperti itukah? anak kls 2 Smp, umur baru 14thn, dgn laki-laki yg saya perkirakan berusia 40-45thn, bukan saja berhidung belang tapi berkelakuan seperti anjing belang, pikiran saya melayang, kemana orangtua si anak SMP tersebut, tidakkah mereka tahu bahwa anaknya menjadi santapan lezat para anjing belang?? Lalu apa yang dipikirkan si anak SMP tadi,sehingga dengan mudah menjual kehormatannya kendati usianya masih sangat belia?, karena uang? ingin punya ponsel canggih?, ingin pakaian mewah yg orangtuanya tak mampu penuhi? atau mungkin ingin memakai 'kawat gigi'', biar terlihat seperti orang kaya, sayapun sibuk mengira-ngira... dalam galau saya sempat mendoa,
Ya Allah, beri jalan anak itu supaya tidak jadi di''pake'' nanti sore....!

Na'udzubillahimindzalik,,,!!! Saya langsung teringat dengan anak-anak saya yang sedang berada di sekolah, mereka bangun pagi, sholat subuh, sarapan, lalu berangkat sekolah tak lupa cium tangan, tentunya disertai dengan doa, semoga mereka dimudahkan dalam menyerap pelajaran yg disampaikan guru, dan semoga segala ilmu yg dipelajari memberi manfaat sebesar-besarnya buat kehidupan mereka nanti,,, dan saya yakin semua ibu juga akan mengharapkan hal yang sama bagi anak-anak mereka, begitupun dengan ibu  ''sianakSMP'' diatas...
Pagi itu, Allah membuka mata saya, bahwa beban menjadi orangtua memang berat, tanggung jawab tak terhingga, tak berbatas,,,, Semoga Allah selalu andil menjaga mereka...Amien
read more "Telepon Nyasar"

Sabtu, 19 Maret 2011

Do'a Untuk Anak-anakku....

      Bertumbuhlah kalian,,,
menjadi apa saja yang kalian mau
memberi apa saja yang kalian buat
menjalani segala yang mestinya membuat kalian kuat
melakukan yang terbaik yang kalian punya
Lepaskan kulit tubuhku ketika kalian tidak sanggup menghadapi terik matahari sendiri
Lucuti semua yang ada padaku, sekiranya mampu membuat kalian menjadi tegar
Karena segala asa, segala rasa, segala upaya, semata untuk keberadaan kalian.
Jangan pernah ragu untuk melangkah, berjalan, berlari atau melompat sekalipun,
Karena aku tahu, kalian pasti mengerti setiap gerak bijak yang baik bagi kalian.
Mungkin aku egois, karena selalu menuntut yang baik saja dari kalian,
dan kadang seringkali mengabaikan pembangkangan yang tidak lain hanya
karena ingin perhatian lebih.
Maafkan jika aku bukan ibu yang pintar buat kalian, bukan teman yang nyaman untuk berbagi,
dan bukan guru yang ideal untuk  jadi panutan, karena aku memang bukan ibu dengan pendidikan tinggi
untuk menghadapi kalian,
   Ibu yang  selalu belajar dari keberadaan kalian....
Tapi dengarlah,,, doaku tidak pernah putus dalam jiwa...
Jangan tanya berapa kali doa "Rabbiihabliiminashshoolihiin" aku ucapkan setiap hari
Seberapa sering nama-nama kalian aku sebut dalam setiap lantunan ayat-ayat-NYA yg aku baca,
Bahkan harapan dan pengharapan terkadang terlintas begitu saja dalam setiap rakaat sholatku,
Mungkin itu salah, tapi begitulah aku tidak pernah bisa menolak ajakan lidah dan hati untuk selalu berucap yang sama setiap saat.
Menyesalkah kalian demi mendapati seorang ibu yang hanya berada dirumah setiap waktu?
Ibu yang bahkan sekedar untuk membeli garam saja mesti meminta,
Ibu yang tidak pintar seperti orang, bukan ibu dengan ilmu dan titel yang berjejer-jejer.
Demi Allah, tak satupun sanggup aku lewati kecuali dengan campur tangan-NYA
Tapi tahukah kalian, bahwa  doaku tidak pernah putus, bahkan sampai ketika aku mencuci beras untuk makan kalian,
Sholawat selalui mengiringi setiap yang tersaji, juga doa dan harapan, semoga apa yang kalian nikamati
menjadi berkah tak terhingga, sebagai bekal kalian merangkai hari, menggapai asa, semua untuk kalian...
Dengarlah anak-anakku....
Maafkan ibu jika terkadang membuat kalian terluka, jika tidak sanggup meghapus air mata kalian,
bahkan tidak mampu membalut luka kalian.
Satu hal lagi yang harus kalian tahu, bahwa ketika kalian terluka, maka aku yang pertama merasakan sakit
Ketika kalian menangis, aku yang terlebih dahulu mengeluarkan air mata,
Bahkan tenggorokanku tidak akan pernah sanggup menelan apapun,
jika kalian belum kenyang terlebih dahulu.
Maukah kalian berjanji...?
Untuk tetap menjadikan ALLAH SWT sebagai sandaran yang haqiqi dalam hidup kalian
Menjadikan MUHAMMAD SAW selalu menjadi panutan dalam menjalani hari-hari kalian
Tetap berpegang teguh pada ALQUR'AN dan SUNNAH sebagai pedoman yang tak terbantahkan
Terkadang aku naif, bangun sholat tengah malam hanya meminta Ridho dan kebaikan untuk kalian saja
Sehingga sering lupa meminta untuk diri sendiri,,, tapi aku tahu ALLAH Maha Baik,
dan tidak akan pernah abai untuk mendengar doa-doaku dan menyertakan kebaikan untukku dan kalian
Karena jika kalian menjadi baik, maka kebaikan pula yang akan aku dapat.
Bukankah bekal yang akan mengikuti  kita sampai akherat adalah anak-anak yang sholeh?
Selebihnya adalah amal dan sedekah, yang lain tidak!
Dan pada akhirnya, doa-doa panjang ini untuk kalian,,,
Ya Rabbanaa,,,, Yang Maha Pengampun...
   Ampunkan dosa-dosaku, Orang tuaku, Suamiku, Anak-anakku, saudaraku,
dan orang-orang yang aku kasihi, dengan sebesar-besar ampunan, Seutuhnya!
Jadikan anak-anakku diantara orang-orang yang selalu Engkau kasihi,
menjadi bagian mukmin yang selalu Engkau Ridhoi.
Yaa Rabbanaa,,, Dzat Yang di tangan-NYA segala ketentuan Qadha' dan Qadar...
Tentukan bagi mereka, yang terbaik dari ketentuan-MU yang baik.
Tunjukkan bagi mereka Jalan-MU bahkan tanpa perlu mereka mencari.
Berikan kemudahan bagi mereka dalam meniti kehidupan,
Luaskan pintu rezeki, cukupkan mereka, serta selalu jadikan mereka hamba yang selalu bersyukur
Ya Rabbanaa,,,Yang Maha Kasih...
Eratkan tali silaturrahim diantara mereka,
Tetapkan ukhuwah menjadi titian mereka menjalani Qadar-MU
Senantiasakan ucapan lemah-lembut dan perasaan kasih sayang tak terhingga diantara mereka
Yaa Rabbanaa,,, Aku menyayangi mereka, sungguh!
Bahkan ketika aku tidak sanggup mencintai diriku sendiri.
Jika keberadaan mereka adalah ujian, mudahkan aku dalm memikul Ujian-MU
Karena aku tahu, Engkau tidak akan pernah memberi ujian tanpa Engkau perhitungkan pula kemampuan kami memikulnya.
    Anak-anakku.... Berusahalah kalian untuk menjadi sebaik-baik ummat
Yang selalu bersabar atas kekurangan dan senantiasa bersyukur atas kelebihan.....
 "Rabbanaa hablanaa min azwaajina wa dzurriyyatinaa qurrataa'yun waj'alnaa lil muttaqiina imaamaa...'"
           Amien Ya Rabbal'aalamiin....


***Untuk garuda-garuda kecilku
       terbanglah kalian mencapai anganmu
     Setinggi mungkin,,, sejauh mungkin...!
read more "Do'a Untuk Anak-anakku...."

Untuk diriku, dirimu, dan yg lainnya....

Pernahkah kalian bertemu dgn orang lain, bukan orang asing, sebenarnya kenal, tapi tatapannya, cara pandangnya, sikap menyapanya, ANEH...!!! melihat dr atas kebawah dengan dahi mengernyit, sepertinya dia mau bilang,,,"elu bukan dr golongan gue, jadi gue ga pantes ngobrol sama elu''..... sumpah saya amat sangat merasa tak dianggap?
 Hallooooww.... Buat kamu yg merasa dunia kamu paling gemerlap, dan buat kamu yg merasa masa depan akheratnya paling husnulkhotimah....ato buat kamu yg merasa jidat kamu paling licin... Jangan pernah merasa lebih bermartabat daripada org lain, hanya karena memiliki "SESUATU" yg menurutmu pantes untuk membuatmu menjadi angkuh, atau jgn sampai merasa org lain tdk sempurna hanya karena tdk melakukan doa Qunut pd wkt shubuh, jangan juga menganggap sepele org yg tdk menutup aurat dengan jilbab yg selebar hijabmu, atau jgn jg ... membandingkan dirimu dgn org yg titelnya tdk berjejer-jejer seperti titelmu...jgn pernah takabbur, karena org bejat hari ini  blm tentu masuk neraka pada akhirnya...dan bukan tidak mungkin seorang alim akan mengalami  kebalikannya,,,
Mari kita mendoa, semoga ALLAH senatiasa menjauhkan kita dari sifat riya' dan sombong, senatiasa menjadi hamba yg tau harus berterima kasih kepada siapa dan untuk apa... Allahumma, jadikan Ridho-MU menjadi prioritas utama dlm hidup kami... (untuk diriku, dirimu dan yg lainnya...)
read more "Untuk diriku, dirimu, dan yg lainnya...."

My first

Nama saya Fariha Munir, panjangnya Farihatun Munir ( orang seringkali salah menyebut kata pertama) entahlah., padahal bagi saya nama itu biasa saja, tapi orang bilang sedikit aneh, sayapun bangga dengan nama itu, karena warisan indah dr seorang ayah yg sampai sekarang saya belum bisa mengingat apa yg bisa saya kenang dr beliau, karena beliau meninggalkan saya (kami) jauh sebelum saya sempat mengenal alfhabet, seorang yang sangat saya rindui sampai detik ini, seorang yg akan selalu saya ingat setiap kali menyebut nama sendiri, karena namanya juga ada dlm urutan namaku, dan setiap kali mengingat, setiap kali itu pula nurani tiba-tiba menjadi mellow, ah sudahlah... ( mungkin suatu saat nanti saya akan menulis panjang tentang beliau, Insyaallah!) saya seorang ibu dari 4 orang anak, seorang pengangguran yang notabene selalu sibuk, ibu yang selalu merasa kekurangan waktu padahal banyak waktu terbuat sia-sia hanya untuk sesuatu yg tak bermanfaat, makhluq Allah yg bodoh tapi kadang-kadang pura-pura pintar, ibu yang cerewet tapi sok bijak, daan  masih sangat banyak lagi hal negatif dari seorang ''Fariha''...tapi, satu hal positif dari saya,,,bahwa saya selalu ingin belajar lebih banyak tentang segala hal dan ingin menjalin silaturrahim dengan seluas-luasnya kalangan, salah satunya dengan hantaran blog ini...(mungkin akan sangat ''cetek'', dan tidak layak disebut blog, tak apalah setidaknya saya sudah berusaha, heheheh)...semoga bermanfaat..."buat saya tentunya''
read more "My first"