''Tunggu sebentar, biar saya panggilkan. Palingan juga lagi di masjid, biasanya ga akan pulang kalau belum kelar sholat isya'' Ujar adik laki-laki saya, sembari menyalakan motornya dan berlalu. Segala pikiran berkecamuk dalam jiwa, saya penasaran, seperti apa dia sekarang, kenapa mereka tidak mengabariku sejak awal, bahkan dia sudah kembali semenjak 3 hari .yang lalu, Benarkah,,,???
''Tega,,,kenapa ga ngasi tau dari kemarin,,?'' tanyaku pada kakakku.
Sambil membenarkan letak duduknya kakak perempuanku berujar,
‘'Dia ga mau ketemu siapa-siapa, malu katanya, Dia juga ga pernah kemana-mana selain ke masjid.'' kakakku memberi pembelaan.
''Tapi saya juga kan punya hak untuk tau'' Suara saya meninggi.
''Iya, tau,,,tapi ini kan permintaan dia juga, ayah terlalu merasa bersalah sama kita semua, jadi serba ga enak, padahal kangen sekali sama kita semua'' demikian penjelasan kakakku, ketika rasa cemburu saya membuncah karena tidak mengetahui lebih awal tentang kepulangan ayah saya. Kami 4 orang bersaudara dan seorang ibu, memang tinggal terpisah semenjak kami masing-masing membina rumah tangga.
Ayah saya pergi lebih dari 32 tahun yang lalu. Kami masih sangat kecil waktu itu, dalam usia balita, kecuali kakak sulung saya yang sudah berusia 6 tahun.
Dan kami meyakininya sebagai ‘’meninggal’’
Karena beliau memang nyata meninggal adanya, mendadak, tanpa sakit, dan Allah memanggilnya dalam keadaan puasa sunnah waktu itu. Subhaanallah!!!
Tapi bagaimana mungkin setelah sekian lama, kemudian dia pulang???
AYAH SAYA PULANG...!!!
Saya menulisnya besar-besar dengan tanda pentung berjejer tiga.
Iya, ayah saya ternyata pulang, tiga puluhan tahun saya menunggu, tanpa pernah tau keberadaannya.
Dia hanya pergi, entah kemana.
Dia tidak meninggal seperti yang saya yakini selama ini.
Laki-laki angin itu ada disini sekarang, dan saya sedang sibuk melukis wujudnya.
Masih gagahkah, bagaimana dengan rambut ikalnya? Kulit putihnya?
Saya ingin sekali memeluknya, merasakan tubuh kekarnya, menikmati ketampanannya.
Ah, saya benar-benar tidak sabar...
Sesekali saya melongok keluar, sambil terus mencoba merenda, kalimat apa yang pantas saya ucapkan ketika pertama kali menjabat tangannya nanti. Duuuhhh,,, gelisah dan mendebarkan. Seperti anak muda yang sedang jatuh cinta, ingin segera bertemu, tapi tak ingin.
Grogi,,,saya jatuh cinta sama ayah saya.
Pikiran saya melayang sesaat, andai saja dia pulang 16 tahun yang lalu, pastilah dia yang akan menjabat tangan laki-laki yang kini menjadi suami saya pada saat ijab-qabul akad nikah saya dulu.
Dia pula yang akan menentukan hari dan tanggal pernikahan saya, dan dia yang akan berada disamping saya, menemani dan mendampingi ibu saya di pelaminan saya. Orang pertama yang mencium anak laki-laki pertama saya, dan akan menjabat tangan suami saya demi mengucap kata selamat!
Atau mungkin saja, dia orang pertama yang akan menyokong dan mendukung saya untuk harus menyelesaikan sekolah setinggi-tingginya. Karena dia sangat paham bahwa perempuan juga memiliki hak yang sama bahkan dalam pendidikan.
Tapi sudahlah, yang terpenting hari ini adalah, bahwa dia kembali.... Dan saya sangat mensyukuri itu...!!!
''Maafkan, beribu-ribu ampun maaf, anakku,,, Maafkan segala kesalahan ayah, tidak pernah berkabar, bersurat, atau apapun, buat kamu kakak-kakakmu, adikmu, juga ibumu, maafkan, maafkan, bahwa ayah telah meninggalkan kalian begitu lama'' Suara ayah saya parau, intonasinya bertubi-tubi, bahkan seperti tidak ,memberi kesempatan saya bicara.
Saya menjabat tangannya, dingin.
Berhamburan memeluknya, menciumnya.
Oh Tuhan,,, inikah syurga cinta seorang ayah kepada anaknya?
Saya merasakannya sekarang, pelukan hangat ayah saya…
Saya belum ingin melepasnya, ketika tiba-tiba dia melanjutkan kalimatnya,
'' Maafkan ayah tidak bisa menemani kalian melewati masa kanak-kanak kalian, tak sanggup merangkul kalian ketika kalian sedih, bahkan ayah tidak bisa menjadi wali nikah kalian,
ayah tidak pernah menafkahi kalian, dan kini ayah datang setelah ayah renta.''
Saya menyeka air matanya yang deras, saya berkesempatan melihatnya lamat-lamat.
Dia masih tetap tampan kendati terlihat mulai menua.
Saya memeluknya kian erat, merasakan dada bidang yang mulai melemah, meremas jemari halusnya yang mulai keriput. Saya tidak sanggup berkata-kata, buyar semua kalimat yang sejak tadi saya susun, kalimat yang akan saya ucapkan, hanya tercekat sampai di tenggorokan. Saya meraba pipinya makin basah, dia menangis tersedu-sedu.
Sejenak saya melepaskan pelukan saya, menatap matanya yang teduh...
"Sebenarnya ayah malu bertemu kalian, malu sekali... Tapi ayah juga sangat merindui kalian. Kamu cantik sekali, nak ! Seperti yang ayah bayangkan. Putri kecil ayah dengan rambut kuncir kuda, sekarang sudah menjelma menjadi perempuan cantik, ayah bangga memiliki kalian!!. '' Suaranya semakin berat. Saya memeluknya kembali, dan tak ingin lepas!!!
Tiga puluhan tahun saya penasaran, membayangkan pelukan hangat ini, mereka-reka seperti apa.
Dia masih sangat tampan ternyata, selama ini saya hanya bisa melihat wajahnya dalam foto.
Dan lihatlah kawan,,,! Saya merasakannya sekarang, sentuhan hangatnya, mendengar suaranya, menikmati aroma tubuhnya, saya bisa merasakan kebahagiaan kalian sekarang, saya menikmati kehadiran seorang ayah.
Dan kesempatan ini tidak lagi hanya milik kalian, tapi juga saya. Dan ini nyata....Saya bahagia.
Bahagia sekali, meski terlambat,,, saya sempat memeluk ayah saya.
Sejenak kemudian ayah saya mengeluarkan sesuatu dari saku baju koko yang dikenakannya.
Seuntai tasbih yang dibungkus sapu tangan usang, butirannya berwana hitam berkilat-kilat, dengan rumbaian benang berwarna emas.
''Hanya ini nak, yang bisa ayah berikan, tidak ada pakaian apalagi emas.
Hitunglah butirannya setiap hari, bukan dengan hitungan angka,
tapi dengan untaian nama-nama Indah Allah '’ suaranya berat, tercekat
Saya memelas, ''memang selama ini ayah kemana saja, kami sangat membutuhkan ayah, kami sangat rindu Yah?'' tanyaku.
''Sebenarnya selama ini ayah tidak pernah kemana-mana,
ayah tetap disini, dihati kalian...!!! Ayah menjawab singkat.
Saya, kakak saya dan adik laki-laki saya,,,, kami berpandangan satu sama lain, tidak mengerti apa yang baru saja ayah katakan.
Kami berpelukan, Subhaanallah,,, Terima kasih Ya Allah atas kesempatan ini.
Saya kembali menangis, kali ini tangis bahagia.
Sekali lagi, ini tangis bahagia, dendam membara akan kerinduan, kesumat tak berperi untuk sebuah sebutan ''AYAH''
''Mah,,bangun mah... mimpi apa sih sampai nangis begitu....???
Laahaulaa walaa quwwata illabillah,,,
Subhaanallah walhamdulillah walaailaaha illallahu Allahuakbar.
Saya masih menangis, entah bahagia, entah bersedih.
Ini mimpi terindah saya, mestinya ini bisa lebih lama,
jika saja suami saya tidak membangunkan saya.
Terima kasih Ya Rabb,,,, untuk mimpi malam ini,
Saya menatap dinding kamar,
Tasbih bulir-bulir hitam berkilat dengan rumbai benang emas itu tergantung disitu....
Sebulan berselang, kehangatan pelukan ayah saya masih disini.
Yaa Rahmaan,,, ijinkan mimpi ini hadir lain kali, lagi...!
Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afii’iwa’fu’anhu…..