Assalaamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh...

Assalaamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh...
Awali segalanya dengan niat tulus,,,

Selasa, 20 September 2011

Sekedar sapa

Bismillahirrahmaanirrahiim,,,
Subhanallah, 3 bulan sudah, saya tidak pernah mengunjungi Blog ini.
Entahlah, tiba-tiba saya kehilangan banyak kata, kehilangan banyak kesempatan, kehilangan banyak ruang, kehilangan banyak ide, untuk menumpahkan kalimat berantakan yang ada diotak saya.
Kata, kalimat,,,, terlalu banyakk sebenarnya yang ingin di ungkapkan, tapi nyatanya kadang hanya mentok diujung lidah. Mau langsung ditulis? Waktu,,, itu yang jadi kendala ( maklum,,, saya mah orangnya kadang sok sibuk, sebenarnya mah nyibuk-nyibukin diri doang, biar keliatan sok elegan kayak orang-orang bekerja gitu...).
Banyak hal yang ingin ditulis, tentang rasa, ruang, waktu, marah, cinta, dan segala hal yang boleh dan tak boleh orang tahu, sempat dan tidak sempat orang baca, Who's care?? (ini ngomongin apa sih sebenernya yak,,,???)
Well,,,banyak hal yang hilang sebenarnya, yang tertinggal, yang terlupa, yang tertindas,,, dan semua ingin dituangkan disini, tapi sepertinya tidak untuk hari ini, karena jujur,,, saya benar-benar kehilangan ide,,,hehehe
Sekedar menambah jumlah postingan, mungkin itu saja alasannya,,,
Sekedar berkunjung, untuk menambah jumlah pengunjung, heheheh
Tapi sejujurnya, saya masih tetap ingin menulis, nanti...!!!
Semoga bisa tersusun menjadi kalimat yang layak posting,
Setidaknya layak untuk bacaan saya sendiri, syukur-syukur bisa kebaca dan dimengerti orang,,,,heheheh...(lagi, lagi,,,)

Dunia makin panas aja, semoga ini tidak mempercepat datangnya kiamat ya,,,:))
read more "Sekedar sapa"

Sabtu, 18 Juni 2011

Ajari Aku

Saya terkurung disini
Dalam amarah yang tak berlogika
Dalam kebodohan yang terselubung
Dalam tawa yang tak terkendali
Dalam nafsu liar dan nakal

Saya ingin mengenal Tuhan saya
Dengan wujud cinta yang lain
Dengan pandangan angka yang beda
Dengan rangkaian kalimat-kalimat pintar
Dengan segala yang nyata dan tidak

Pada apapun saya bertanya
Tentang apapun saya mengukur
Pada tanah
Pada air,
Pada api
Tuhan,,, Ulurkan Tangan Cerdik-MU
Biar kusentuh, meski hanya perpanjangannya saja
Saya ingin, saya tidak sekedar bual besar

**Long life education, Minal mahdi ilallahdi
read more "Ajari Aku"

Minggu, 12 Juni 2011

Terima Kasih Untuk Malam Ini


     ''Tunggu sebentar, biar saya panggilkan. Palingan juga lagi di masjid, biasanya ga akan  pulang kalau belum kelar sholat isya'' Ujar adik laki-laki saya, sembari menyalakan motornya dan berlalu. Segala pikiran berkecamuk dalam jiwa, saya penasaran, seperti apa dia sekarang, kenapa mereka tidak mengabariku sejak awal, bahkan dia sudah kembali semenjak 3 hari .yang lalu, Benarkah,,,???
 ''Tega,,,kenapa ga ngasi tau dari kemarin,,?'' tanyaku pada kakakku.
Sambil membenarkan letak duduknya kakak perempuanku berujar,
‘'Dia ga mau ketemu siapa-siapa, malu katanya,  Dia juga ga pernah kemana-mana selain ke masjid.'' kakakku memberi pembelaan.
 ''Tapi saya juga kan punya hak untuk tau'' Suara saya meninggi.
''Iya, tau,,,tapi ini kan permintaan dia juga, ayah terlalu merasa bersalah sama kita semua, jadi serba ga enak, padahal kangen sekali sama kita semua'' demikian penjelasan kakakku, ketika rasa cemburu saya membuncah karena tidak mengetahui lebih awal tentang kepulangan ayah saya. Kami 4 orang bersaudara dan seorang ibu, memang tinggal terpisah semenjak kami masing-masing membina rumah tangga. 
Ayah saya pergi lebih dari 32 tahun yang lalu. Kami masih sangat kecil waktu itu, dalam usia balita, kecuali kakak sulung saya yang sudah berusia 6 tahun.
Dan kami meyakininya sebagai ‘’meninggal’’
Karena beliau memang nyata meninggal adanya, mendadak, tanpa sakit, dan Allah memanggilnya dalam keadaan puasa sunnah waktu itu. Subhaanallah!!!
Tapi bagaimana mungkin setelah sekian lama, kemudian dia pulang???
     AYAH SAYA PULANG...!!!
Saya menulisnya besar-besar dengan tanda pentung berjejer tiga.
Iya, ayah saya ternyata pulang, tiga puluhan tahun saya menunggu, tanpa pernah tau keberadaannya.
Dia hanya pergi, entah kemana.
Dia tidak meninggal seperti yang saya yakini selama ini.
Laki-laki angin itu ada disini sekarang, dan saya sedang sibuk melukis wujudnya.
Masih gagahkah, bagaimana dengan rambut ikalnya? Kulit putihnya?
Saya ingin sekali memeluknya, merasakan tubuh kekarnya, menikmati ketampanannya.
Ah, saya benar-benar tidak sabar...
     Sesekali saya melongok keluar, sambil terus mencoba merenda, kalimat apa yang pantas saya ucapkan ketika pertama kali menjabat tangannya nanti. Duuuhhh,,, gelisah dan mendebarkan. Seperti anak muda yang sedang jatuh cinta, ingin segera bertemu, tapi tak ingin.
Grogi,,,saya jatuh cinta sama ayah saya.
 Pikiran saya melayang sesaat, andai saja dia pulang 16 tahun yang lalu, pastilah dia yang akan menjabat tangan laki-laki yang kini menjadi suami saya pada saat ijab-qabul akad nikah saya dulu.
Dia pula yang akan menentukan hari dan tanggal pernikahan saya, dan dia  yang akan berada disamping saya, menemani dan mendampingi ibu saya di pelaminan saya.  Orang pertama yang mencium anak laki-laki pertama saya, dan akan menjabat tangan suami saya demi mengucap kata selamat!
Atau mungkin saja, dia orang pertama yang akan menyokong dan mendukung saya untuk harus menyelesaikan sekolah setinggi-tingginya. Karena dia sangat paham bahwa perempuan juga memiliki hak yang sama bahkan dalam pendidikan.
Tapi sudahlah, yang terpenting hari ini adalah, bahwa dia kembali.... Dan saya sangat mensyukuri itu...!!!
      ''Maafkan, beribu-ribu ampun maaf, anakku,,, Maafkan segala kesalahan ayah, tidak pernah berkabar, bersurat, atau apapun, buat kamu kakak-kakakmu, adikmu, juga ibumu, maafkan, maafkan, bahwa ayah telah meninggalkan kalian begitu lama'' Suara ayah saya parau, intonasinya bertubi-tubi, bahkan seperti tidak ,memberi kesempatan saya bicara.
Saya  menjabat tangannya, dingin.
Berhamburan memeluknya, menciumnya.
Oh Tuhan,,, inikah syurga cinta seorang ayah kepada anaknya?
Saya merasakannya sekarang, pelukan hangat ayah saya…
Saya belum ingin melepasnya, ketika tiba-tiba dia melanjutkan kalimatnya,
'' Maafkan ayah tidak bisa menemani kalian melewati masa kanak-kanak kalian, tak sanggup merangkul kalian ketika kalian sedih, bahkan ayah tidak bisa menjadi wali nikah kalian,
ayah tidak pernah menafkahi kalian, dan kini ayah datang setelah ayah renta.''
Saya menyeka air matanya yang deras, saya berkesempatan melihatnya lamat-lamat.
Dia masih tetap tampan kendati terlihat mulai menua.
 Saya memeluknya kian erat, merasakan dada bidang yang mulai melemah, meremas jemari halusnya yang mulai keriput. Saya tidak sanggup berkata-kata, buyar semua kalimat yang sejak tadi saya susun, kalimat yang akan saya ucapkan, hanya tercekat sampai di tenggorokan. Saya meraba pipinya makin basah, dia menangis tersedu-sedu.
Sejenak saya melepaskan pelukan saya, menatap matanya yang teduh...
 "Sebenarnya ayah malu bertemu kalian, malu sekali... Tapi ayah juga sangat merindui kalian. Kamu  cantik sekali, nak ! Seperti yang ayah bayangkan. Putri kecil ayah dengan rambut kuncir kuda, sekarang sudah menjelma menjadi perempuan cantik, ayah bangga memiliki kalian!!. '' Suaranya semakin berat. Saya memeluknya kembali, dan tak ingin lepas!!!
     Tiga puluhan tahun saya penasaran, membayangkan pelukan hangat ini, mereka-reka seperti apa.
Dia masih sangat tampan ternyata, selama ini saya hanya bisa melihat wajahnya dalam foto.
Dan lihatlah kawan,,,! Saya merasakannya sekarang, sentuhan hangatnya, mendengar suaranya, menikmati aroma tubuhnya, saya bisa merasakan kebahagiaan kalian sekarang, saya menikmati kehadiran seorang ayah.
Dan kesempatan ini tidak lagi hanya milik kalian, tapi juga saya. Dan ini nyata....Saya bahagia.
Bahagia sekali, meski terlambat,,, saya sempat memeluk ayah saya.
      Sejenak kemudian ayah saya mengeluarkan sesuatu dari saku baju koko yang dikenakannya.
Seuntai tasbih yang dibungkus sapu tangan usang, butirannya berwana hitam berkilat-kilat, dengan rumbaian benang berwarna emas.
''Hanya ini nak, yang bisa ayah berikan, tidak ada pakaian apalagi emas.
Hitunglah butirannya setiap hari, bukan dengan hitungan angka,
 tapi dengan untaian nama-nama Indah Allah '’ suaranya berat, tercekat
 Saya memelas, ''memang selama ini ayah kemana saja, kami sangat membutuhkan ayah, kami sangat rindu Yah?'' tanyaku.
''Sebenarnya selama ini ayah tidak pernah kemana-mana,
ayah tetap disini, dihati kalian...!!! Ayah menjawab singkat.
Saya, kakak saya dan adik laki-laki saya,,,, kami berpandangan satu sama lain, tidak mengerti apa yang baru saja ayah katakan.
Kami berpelukan, Subhaanallah,,, Terima kasih Ya Allah atas kesempatan ini.
Saya kembali menangis, kali ini tangis bahagia. 
Sekali lagi, ini tangis bahagia, dendam membara akan kerinduan, kesumat tak berperi untuk sebuah sebutan ''AYAH''
     ''Mah,,bangun mah... mimpi apa sih sampai nangis begitu....???
Laahaulaa walaa quwwata illabillah,,,
Subhaanallah walhamdulillah walaailaaha illallahu Allahuakbar.
Saya masih menangis, entah  bahagia, entah bersedih.
Ini mimpi terindah saya, mestinya ini bisa lebih lama,
jika saja suami saya tidak membangunkan saya.
Terima kasih Ya Rabb,,,, untuk mimpi malam ini,
Saya menatap dinding kamar,
Tasbih bulir-bulir hitam berkilat dengan rumbai benang emas itu tergantung disitu....
Sebulan berselang, kehangatan pelukan ayah saya masih disini.
Yaa Rahmaan,,, ijinkan mimpi ini hadir lain kali, lagi...!

Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afii’iwa’fu’anhu…..
read more "Terima Kasih Untuk Malam Ini"

Jumat, 10 Juni 2011

Posesif

Mengapa lenyap sapamu

Aku mencari, tak tentu arah

Sepimu membekukan sebagian liarku

Aku meraba, nanar,,,!!!

Yang ada tetap senyap...


Jika ini dosa tak terampunkan

Tak ragu kupohonkan kembali

Demi kasih yang tak bertuan

Karena cinta ini tulus
read more "Posesif"

Rabu, 11 Mei 2011

Anak Kita

Kita hanya pemberi kasih
Kita hanya  penyedia sayang
Kita hanya gudang cinta
Tapi mereka tetap merindui dunia mereka
Anak-anak kita bukan milik kita
Karena mereka adalah milik mereka sendiri
Kendati mereka terlahir dari rahim kita 
Namun mereka tetaplah masa depan mereka
Ketika kita menyelami dunianya
Jangan berharap jiwa mereka bisa tenggelam dalam dunia kita
Karena mereka tidak berjalan mundur
Kita tidak bisa mengunjungi hari esok
Meski hanya dalam mimpi
Kita hanya busur bagi mereka
Ketika anak panah terlepas
Pastikan itu kearah yang tepat
Karena kita membidiknya dengan cermat, kuat, dan kasih sayang
Semoga mereka tetap ingat pada sentuhan cinta kita
read more "Anak Kita"

Kamis, 05 Mei 2011

Laki-laki dingin itu masih tetap disitu

Ditengah keramaian jalan yang macet, saat berangkat sekolah tepat jam 7 pagi. Nayla anak perempuan saya satu-satunya nyeletuk sambil membenarkan jilbabnya.
"Mah, emang orang itu ga punya rumah ya Mah? kok setiap hari disitu terus??"
Ini bukan kali pertama dia menanyakan hal ini, berkali-kali bahkan hampir setiap kali dia melihat laki-laki itu,
"Mungkin punya, tapi udah biasa dijalan kali" saya menjawab sekenanya,
"Emang dia ga makan apa Mah, siapa yang kasi makan ya Mah, Eh, liat deh Mah,,, posisi tidurnya juga persis kayak kemaren Mah, ga berubah-berubah, jangan-jangan dia meninggal Mah," dia masih terus saja bertanya, nyaris tanpa jeda.
"Aduuh, nanyanya ntar aja ya Nak, macet nih,, kalo ngomong terus jadi ga konsentrasi Mamah,,! Nayla diam, tapi saya tahu dia pasti masih penasaran dengan jawaban saya. Sayapun berjanji menjelaskan nanti.

Nayla memang selalu kritis setiap kali bertanya sesuatu, harus dijawab sampai puas. Usianya baru 8 tahun, kelas 2 di sebuah SDIT, jarak dari rumah ke sekolahnya sekitar 3 km, saya mengantar dan menjemputnya sekolah setiap hari. Meski jalanan ramai, saya selalu berusaha mengantarnya tepat waktu, jarak 3 km, saya tempuh kadang sampai 10-15 menitan kalau sudah terjebak macet. Rutinitas yang kadang bikin bosan, MACET!

Kondisi jalan pertigaan pada jam segini ini, selalu ramai, orang-orang berangkat kerja, anak-anak berangkat sekolah, ibu-ibu yang mengantar anaknya sekolah seperti saya, pekerja, pedagang, dengan ragam kendaraan, motor, mobil, sepeda, sampai becak, bahkan ada juga pejalan kaki. Semua tumpah jadi satu, sesak dipertigaan.

Sebenarnya komplek perumahan saya bukan jalan umum, maksudnya bukan jalan raya, tapi karena jalan utama sering macet, jadilah orang-orang yang selalu tergesa-gesa dikejar waktu tumpah memenuhi jalan alternatif, termasuk jalan di komplek saya.
Semua seakan dipertuan oleh waktu, tak ada yang mau mengalah apalagi mau terlambat, sekecil apapun celah pasti diburu dan menyalip, SELAMAT! tak peduli orang yang disalip menggerutu, bahkan mengumpat, yang penting kendaraan berhasil keluar dari cengkraman macet, Yuuppss, ,Horrayyy... siapa cepat membaca peluang, maka dia yang lebih cepat sampai tujuan, tak ada yang mau mengalah...!!
Ini baru jalan di dalam komplek perumahan, apalagi jalan raya ya, jalan protokol, atau apalah namanya.

Well, tapi ini bukan tentang Nayla atau fenomena jalanan macet, tapi tentang seorang laki-laki dingin tak bergeming, yang selalu jadi bahan perbincangan saya dengan Nayla ditengah kemacetan.

Titik rawan macet, dipersimpangan jalan, pertigaan tepatnya, hanya berjarak 20meter dari tempat tidur laki-laki yang dibicarakan anakku tadi. Tempat tidur?? Padahal ini kan pinggir jalan?
Ya, Laki-laki setengah baya, saya perkirakan berusia 30-an tahun, setiap hari, setiap waktu ada disitu, didepan sebuah bangunan setengah jadi, yang hanya berbentuk kotak dengan teras kecil berukuran 1x2 meter, dengan atap yang sedikit menjorok ke depan,belum disemen, hanya berupa peluran kasar, tanpa alas, berdebu dan kotor, entah sejak kapan laki-laki dingin itu berada disitu...

Disamping bangunan ini adalah tanah kosong, yang kadang digunakan oleh sebagian orang sebagai tempat pembuangan sampah, tentunya orang yang tidak bertanggung jawab, bagaimana tidak, tidak kurang dari tiga buah plang triplek usang terpajang disitu, bertuliskan "dilarang buang sampah disini", atau "buang sampah disini berarti benjol", bahkan sampai, "yang buang sampah disini sama dengan anjing"...
Sadis memang, tapi terkadang orang lebih nyaman disamakan seperti itu daripada mengindahkan larangan tersebut.
Jika hujan turun, tempat ini akan menggenang, karena tidak semua orang sadar tentang saluran air yang benar, sampah menyebar, bau menyengat. Nyamuk, lalat, kecoa, tikus dan segala binatang yang memang sudah ditakdirkan berada ditempat seperti ini, akan berkembang biak dengan aktif.
Selaksa bulan madu bagi mereka.

Dan disini, laki-laki dingin itu menghabiskan hari-harinya, tak peduli ribuan orang lalu-lalang setiap detik setiap hari. Dia selalu saja tertidur dengan posisi telungkup setengah miring, meletakkan kepalanya begitu saja diatas peluran kasar tak berbantal, dengan pikiran yang hanya dia dan Tuhannya saja yang bisa membacanya, Dia hanya diam, tak bergerak.

Entah kenapa, setiap kali melewati jalan ini, saya selalu menyempatkan diri menoleh kearahnya, miris,,, baju hitam yang mungkin awalnya putih, dengan bentuk yang sudah tidak beraturan, kain compang-camping bekas spanduk usang, kadang tersingkap tertiup angin sampai nyaris menelanjanginya. Tubuh kurus kering, kulit gelap,jari kaki yang sudah tidak jelas bentuknya, melebar, dengan kuku yang panjang patah-patah, kumis, jenggot, gigi...Masyaallah, semua berantakan.
Rambutnya panjang,tidak lagi kusut tapi gimbal, mungkin karena tidak pernah tersentuh air sama sekali, berbulan-bulan, bertahun-tahun, satu dasawarsa, dua, tiga, bahkan mungkin seumur hidupnya.
Sebenarnya siapa dia sebelum ini? Dimana rumahnya? Siapa keluarganya? anaknya? Istrinya? orang tuanya? Apa gerangan dia hingga jadi seperti ini, beban apa yang ditanggungnya? Sungguh berat!!!

Beberapa hari yang lalu, seperti biasa saya melewati jalan itu, saya memperlambat laju motor saya, jalan tidak terlalu ramai, sesaat saya bisa memperhatikannya lebih dalam. Laki-laki dingin itu tengah terbaring, dengan posisi telentang, tangannya dibebankan diatas kepalanya, kakinya menyilang diatas kaki yang lain, matanya nanar menatap kelangit, tatapan kosong, dingin dan tak bergeming...
Ya Tuhan,,,apa maksud Engkau menciptakan makhluq malang ini??
Bukankah, sangat mudah bagi-MU mambuatnya seperti makhluq-MU yang lain?
Pikiran saya berkecamuk,,miris... Andai saya bisa, saya ingin membwanya pulang, membersihkan badannya, memotong rambut gimbalnya, memotong kuku-kukunya, memakaikan baju yang bersih, minyak wangi. Menjadikannya makhluq sebersih-bersihnya, setelah itu saya akan bertanya, "kekecewaan apa yang membuatmu seperti ini??"
"Tiin, tiinn,,tiinnn,,,teriakan klakson membuyarkan pikiran saya.Uuppss...

Sekali waktu saya pernah melewati jalan itu malam hari, Laki-laki dingin itu tetap terbujur disitu, seperti biasa, dengan posisi telungkup, kali ini kain yang menutup tubuhnya tersingkap dan dia benar-benar telanjang. Yaa Tuhan, jika saja dia memiliki urat malu, tentu dia tak akan membiarkan dirinya menjadi bahan olokan orang yang lalu-lalang.

Sesekali dia terlihat berdiri, memperhatikan orang yang sibuk mondar-mandir, kendaraan beraneka jenis,cekakak-cekikik anak sekolah yang kebut-kebutan saling salip satu sama lain, gerutu tukang becak yang tak pernah sanggup merubah nasibnya sendiri, tetap saja menggenjot becak dengan kedua kakinya, sopir angkot yang selalu menjadi raja jalanan, berjalan dan berhenti sesuka hati, demi sejumlah setoran, tukang ojek yang hanya wara-wiri saja dijalan, takut pulang karena kerap tanpa membawa uang buat anak- istrinya. Semua seolah menjadi rutinitas yang sangat lazim setiap hari, tapi laki-laki dingin itu tetap datar dengan pandangan kosong, tanpa senyum, apalagi suara, wajahnya hening....

Pagi ini cerah, kali ini saya melihat laki-laki dingin itu duduk disudut teras, dengan sebatang rokok ditangan, dia menghisap dalam-dalam rokoknya, terlihat sejenak asap mengepul diudara. Entah siapa yang telah berbaik hati berbagi rokok untuknya,setidaknya dia masih ingat, bagaimana menghisap rokok, kendati mungkin telah kehilangan kenikmatan akibat kerancuan hidupnya.
Ketika saya kembali, dia sudah dengan posisi semula, telungkup...Entah kapan dia merubah posisinya, saya tidak pernah melihatnya bergerak, selain tidur, berdiri dan duduk.

Cuaca akhir-akhir ini sering tidak bersahabat, dari panas tiba-tiba hujan.
Seperti pagi ini, tiba-tiba saja gelap, mendung, petir bersahutan, gerimis kecil, dan sejenak, bbrrrr....Hujan turun deras, Yah,, padahal baru saja ingin menyelesaikan tugas mencuciku.
Hujan makin deras, kencang tanpa ampun, Allahumma shayyiban nafi'an...
Sejam berlalu hujan masih lebat, jalanan didepan rumah mulai tergenang air, semata kaki, makin lama jadi setinggi betis, makin tinggi...
Pikiran saya melayang, Laki-laki dingin,,! ketika panas terik, malam gelap dengan serbuan ribuan nyamuk, Laki-laki itu tetap disitu, tapi ketika hujan deras begini, masih disitukah,,,?
Saya penasaran, dengan tanya yang membuncah, berteduh dimana dia? adakah selimut, atau setidaknya baju yang lebih layak?
Yaa Tuhan, bagaimana kalau tiba-tiba petir menyambarnya, saya semakin penasaran. Dan entah apa yang mendorong saya melakukan ini, saya harus pergi melihatnya, harus!!!
Dengan jas hujan lengkap saya menyalakan motor saya, Bismillah, menerobos hujan, dengan genangan air setinggi nyaris selutut.
Hujan semakin deras, petir menggelegar, tekad saya sudah bulat, saya harus pergi, demi melihat Laki-laki dingin itu.

Jalanan tidak terlalu ramai hanya beberapa kendaraan saja yang lewat, dari kejauhan saya melihat gundukan hitam ditempat yang sama, Robbi,,,semoga bukan dia pikirku, saya memperlambat laju motor saya,
dan Ya Allah, dia masih disitu, dengan posisi yang sama sekali tidak berubah, basah diguyur hujan, telungkup setengah miring,
Air hujan tanpa ampun telah mengguyurnya, dan menggenangi singgasananya, membasahi kepalanya, rambut gimbalnya, sebagian tubuhnya, air hujan telah menggenangi telinganya, rongga matanya, hidungnya, merasuki jiwanya yang dingin, menenggelamkan angan dan kegamangannya, dia masih disitu, dan tetap disitu,  tak ada yang peduli!!!
Laki-laki dingin sedingin salju, membeku dalam kebekuan tak berkesudahan.
Entah sampai kapan ...


“Pena (catatan pahala dan dosa) diangkat (dibebaskan) dari 3 golongan, di antaranya: orang gila sampai dia sadar.” (HR.Abu Daud)
read more "Laki-laki dingin itu masih tetap disitu"

Minggu, 24 April 2011

Penjara Jiwa

kita hanya menangkap diri kita dalam jebakan, karna kita dipenjara dan dikecewakan oleh keinginan kita. Tidak dulu... juga tidak kini, semuanya selalu berakhir sama..
 Wahai jiwa yang terpasung,,,  
Ledakkan belantara jiwa dengan api cintamu 
Bakar amarahmu dengan manisnya mencinta
Cabuti setiap akar, ilalang, dan semak atau apapun 
Yang sanggup mengganggu pesona cintamu
Tapi ooohh,,, Lihatlah!!! 
Ia tidak lagi menawan
Ia terluka, tercabik-cabik, terkoyak, terenggut, terinjak dan mati !

Kasihan sekali dia, siapa yang sudi melepaskan deritanya?
 Seperti Zulaikha mendamba Yusuf,,, tertawan dalam irama bathinnya sendiri
Parasnya tidak lagi ayu
Jemarinya tidak lagi lentik
Rambutnya tidak lagi indah terurai
Ia telah mempermalukan dirinya sendiri
Nalurinya terlalu liar, lepas tak terkendali
Bahwa ketika ia berada ditaman, segala yang terlihat indah, menawan
Bunga yang cantik, suara burung yang merdu,,,
 Terlena,,, membuai
Sehingga ia lupa, hari telah senja dan mulai gelap
Ia lupa pulang,,,,
 
**untuk sahabatku;; aku meminjam baitmu
 

 
 
read more "Penjara Jiwa"

Jumat, 22 April 2011

Satu Tanya Untuk Satu Rasa

Dimanakah kasih bermuara?
Kemana jiwa menyapa?
Pada apa keyakinan meraba?
Tuhan,,, beri jawab pasti, tapi aku tidak siap mendengar

         Labilkah aku?
         Bodoh?
         Apatis?
         Naif?
         Entahlah, sekali lagi,,,
         Aku tidak pernah siap untuk mendengar jawabnya


Hujan ini menumpahkan bara
Petir semakin berirama
Tetap saja membuncah tanya
Seperti apa nada yang kau cipta

Satu pintaku Tuhan,,,, ampuni aku untuk rasa ini



  

     **Bekasi, 22 april 2011
     
read more "Satu Tanya Untuk Satu Rasa"

Jumat, 08 April 2011

Belum ada judul







Aku dan keluargaku berkunjung ke rumahmu
Kamu dan keluargamu menyambut dengan haru
Anakku dengan membawa buku, 
Mengajak anakmu belajar bersama
Mewarnai gambar yang sama

Tiba saat Maghrib, kita sholat berjamaah bersama
Mendoa untuk tujuan yang sama
Berharap pada Tuhan yang sama
Alangkah indahnya, betapa manisnya
Ketika kita bisa saling memahami...

Betapapun dulu aku pernah mencinta
Betapapun dulu cinta itu tersakiti
Terkoyak, terenggut, tercabik-cabik
Dan dengan singkat saja terlepas
Pernahkah kau rasa?
Adakah kau tahu?

Tapi sudahlah,,, 
Kalaupun kini cinta itu bersisa
Mungkin bukan cinta nyata
Tapi cinta yang mencintai cinta
Seperti angin, terasa namun tak teraba
Seperti dalamnya samudra, terukur namun tak terjamah










read more "Belum ada judul"

Sabtu, 02 April 2011

Rumah Diatas Bukit

Aku ingin ada disana, suatu saat nanti
ketika hanya ada aku dan kamu
Ada sebatang sungai membelah sawah,
burung merdu menyuarakan nyanyian damai
Hamparan padi yang merata warna
sesekali terdengar lenguhan sapi
Aku ingin ada disana, suatu saat nanti
Ketika hanya ada aku dan kamu, juga anak-anak kita
Mungkin saat itu kita sudah renta,
ketika tangan kekarmu tak lagi gagah menjangkauku
Pundakmu tak lagi sanggup menopang tubuhku
Matamu tak lagi awas menatap parasku
Begitu juga halnya aku......
Tapi aku ingin tetap ada disini, didadamu yang damai
dalam kasih sayangmu yang tulus
Itu harapanku, karena aku tahu
tak ada satu orangpun yang sanggup mencintaiku
Seperti cinta yang kau berikan padaku
Aku ingin ada disana suatu saat nanti
Ketika hanya ada aku dan kamu
Anak-anak kita mungkin mulai beranjak dewasa
Ah, padahal baru kemarin saja rasanya,
Ketika mereka sering bangun ditengah malam karena haus
Atau menangis karena mencari perhatian kita
Juga ketika mereka kerap bertengkar
Semata karena mereka saling menyayangi
Anak-anak yang kadang sering membuat kita berselisih paham
Aku ingin mereka seperti ini, sementara kamu ingin yang lain
Kamu selalu ingin menjadikan mereka anak-anak yang kuat
Yang selalu kuat dalam keadaan apapun
Aku bisa mengerti maksudmu,
Semua hanya karena kita menyayangi mereka
Ah, tapi sudahlah.....
Aku jadi penasaran seperti apa mereka nantinya
Aku ingin ada disana suatu saat nanti,
Ketika hanya ada aku dan kamu
Merenda tawa, menggelar cita.....
Hari ini kita masih seperti ini, dan nanti akan menua.....
Namun, Aku ingin ada disana suatu saat nanti
Di Rumah Diatas Bukit, ketika hanya ada aku dan kamu.....


"Dedicate to My husband", terima kasih untuk semuanya....
read more "Rumah Diatas Bukit"

Rabu, 30 Maret 2011

Ini tentang ayah saya

Assalamu'alaikum,,, selamat pagi...
Semoga berkah hari ini menjadi bagian dari karunia Allah yang tak akan teringkari.
Subhaanallah, Maha Suci Allah yang menciptakan hidup dan mati.
Suka tidak suka, mau tidak mau, ketika Allah berkehendak maka bukan hal sulit bagi Allah untuk membuat sesuatu menjadi ada, seperti halnya membuatnya tiada. Tak ada kekuatan apapun yang bisa menolak, dan tidak ada perkara apapun yang sanggup menahannya.
Ketika anak ketiga saya berusia 2,5thn, saya membandingkannya dengan keberadaan saya, pada usia yang sama, saya sudah tidak lagi merasakan kasih sayang ayah saya.
Ketika saya berusia 25thn, saya menyelami keadaan ibu saya pada usia yg sama,dia harus merelakan orang yang selama ini menjadi satu-satunya tumpuan harapannya, partner yang diharapkan mampu menemaninya membesarkan anak-anaknya, penyuplai energi dan materi yang menjadi bekal kehidupannya selanjutnya dan tentu saja, jalan menuju syurga yang mana disetiap pelayanannya akan bernilai pahala. Ya, dia harus melepas ikhlas satu-satunya orang yang amat dia hormati dan cintai, saya memanggilnya AYAH....
Saya sering cemas ketika suami saya menginjak usia 39thn, ada ketakutan, ada trauma dan kekhawatiran, karena pada usia itu Allah memanggil ayah saya menghadap-NYA,( buat suami saya, miss you yah, jaga kesehatan yaa....!===bersyukur kami melewati semua, dan Allah masih bersedia memberi karunia sehat, nikmatnya rejeki,,,,semoga semua menjadi berkah, Amien! ) Saya tahu segala umur, jodoh, rezeki berada di tangan Allah, utuh! sehingga Taqdir sangat sulit ditebak.

Tidak terlalu banyak cerita yang bisa saya gambarkan tentang keberadaan ayah saya, karena untuk mengingat wajahnya saja teramat sulit saya lukiskan.  Dia sangat tampan, gagah, tinggi kekar, kulit putih bersih, rambut ikal hitam mengkilat, dengan jenggot dan sedikit kumis menghiasi wajah maskulinnya (semoga ini tidak berlebihan) itu kata orang yang mengenalnya.
Dia sangat penyabar, santun dalam berkata-kata, sosok ayah yang sangat penyayang pada anak-anaknya, selalu menyempatkan diri bermain dengan anak-anaknya, mengajak kami berjalan-jalan, ke-empat anaknya sambil menggendong, bahkan dua anak sekaligus, menuntun, mengasuh, menyuapi, ''Yaa Allah,,,andai ini bisa terulang...!'' Sosok suami yang selalu mengerti dengan kesibukan istri, tak segan-segan ikut menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, bahkan sering mengambil-alih tugas istrinya ( yang kadang-kadang banyak suami mengabaikan hal iini) begitu cerita ibu saya. Ah,,,betapa bahagianya keluarga kecil ini.
Belum lagi ketika mendengar cerita teman-temannya, Ayah saya, sosok  manusia cerdas hasil didikan alam (meminjam istilah Andrea Hirata utk Lintang), sekolah tidak tinggi tapi sanggup menggantikan peran guru ketika berhalangan masuk, mengajari teman-temannya. seorang humoris penuh setia kawan,  sosok mandiri yang jauh dari kecukupan materi.  Laki-laki sholeh yang sempurna, Rahimahullah!

Jujur saya iri mendengar kedekatan mereka (teman-teman ayah saya) dengan ayah saya, saya iri pada siapapun yang tahu banyak tentang ayah saya, saya iri pada siapapun yang sempat mengenal ayah saya, tapi saya selalu rindu untuk mendengar cerita-cerita mereka lagi, seperti kerinduan saya pada kehadiran ayah saya, saya tidak mengerti betapa Allah sangat tega mengambilnya ketika saya belum bisa mengingat sosoknya, mengapa Allah tidak membiarkan saya bisa mengenalnya lebih jauh dulu, membiarkan saya bisa bertumbuh lebih lama lagi dengan dia, saya ingin sekali berangkat sekolah diantar oleh ayah saya, bukankah sangat mudah bagi Allah untuk membiarkan ayah saya hidup lebih lama???  ( saya menangis, meratapi diri, tapi... Ampun Ya Allah, itu dulu,,,sebelum hamba mengetahui keajaiban taqdir...)

Tgl 4 Syawal 1400H, pukul 03:30, ayah saya bangun untuk makan sahur, dia sedang menjalankan puasa sunnah bulan syawal, dan ini hari ketiga-nya, ibu saya menyediakan dan menemaninya makan sahur, selesai sahur ayah saya berangkat ke masjid yang kebetulan tidak jauh dari rumah hanya berjarak 50meter, sampai selesai sholat subuh. Kebiasaan dikampung saya dulu, seusai sholat subuh jalan raya akan ramai oleh orang-orang yang baru pulang dari masjid, dimana jalan masih sepi kendaraan, orang-orang berjalan beriringan, sekedar bershalawat, sambil ngobrol dengan temannya atau sekedar meregangkan otot...(hmmm,,,kumpulan orang sholeh, insyaallah)
Ayah sayapun sering melakukan hal yang sama, tapi sebelumnya dia menyempatkan diri pulang kerumah dulu, mengambil anaknya yang sudah bangun... saat itu baru saya dan kakak saya yg kedua sudah bangun tidur, ayahpun mengajak kami jalan-jalan,,, (andai saja Allah memberi saya kesempatan utk bisa mengingat ini, mungkin ini akan jadi ''jalan-jalan'' termanis dalam masa kecil saya).
Pulang jalan-jalan itu, ayah mengajak kami tidur lagi, dan sebelumnya sempat berpesan pada ibu saya, ''tolong bangunkan saya agak siang, karena sedang puasa jadi tidak perlu sarapan dulu''...( hari itu adalah hari pertama ayah saya kerja setelah libur lebaran), ayah saya tidur dengan posisi miring, memeluk anak-anaknya.
Pukul 07:30, ibu saya membangunkan ayah saya,,, memanggil, menggerak-gerakkan badan, bahkan sampai memukul dengan guling... tak bergerak, tak ada suara, hening, ,, ibu saya gemetar, kaku, takut, kaget...
Allah sudah mengambilnya, memanggilnya menuju kantor yang lain, menemui singgasana yang lain,,,, dan tanpa sakit...!!!saya tidak bisa membayangkan perasaan ibu saya saat itu, saya tidak menangis, karena sejatinya saya tidak mengerti yang terjadi....
Ya Allah, kenapa Engkau mengambilnya cepat, kenapa Engkau tidak memberi kesempatan kami berjalan-jalan subuh lagi esok hari, kenapa Engkau tidak memberi kesempatan kami lebih lama lagi bersamanya,,, Ya Allah,,,ayah saya belum sempat mengantar kakak sulung saya menjelang hari pertama sekolahnya, ayah saya juga belum sempat mendaftarkan kakak kedua saya, masuk TK, saya belum sepenuhnya sanggup mengingat sosoknya,  bahkan ayah saya belum sempat mengajari anak laki satu-satunya mulai menapaki kakinya ke tanah, dia masih terlalu kecil baru menginjak usia 7bln....
 Tapi sekarang saya mengerti,  Allah pasti lebih menyayangi beliau daripada kami anak-anaknya, Allah lebih bisa mencintai lebih dari cinta ibu saya, Allah jauh lebih memperhitungkan segalanya daripada perhitungan kami keluarganya,,,karena seutuhnya ayah saya adalah milik Allah, dan Allah lebih berhak atas apapun...!!!
         

      **********************()()()()()()()()()()()()()()()()()**************************


  Saya menulis posting ini bukan untuk bersedih-sedih, atau mengajak orang untuk lebih mengorek jauh tentang saya, tapi,,,saya lebih ingin mengingatkan diri saya dan kita semua, bahwa Taqdir Allah adalah mutlaq, DIA bisa mengambil apa saja yang menjadi milik kita, bahkan yang paling kita sayangi sekaligus....
Maka sayangi dan hargai apa yang menjadi milik kita hari ini,
Buat semua yang masih dikaruniai kesempatan bersama ayah,
sayangi beliau... hormati keberadaannya ...!!!
(jujur, saya iri pada kalian yang bahkan sudah menjadi orang tua tapi masih memiliki orang tua lengkap)......
Allahummaghfirlahu warhamhu wa 'aafihi wa'fuanhu...
Semoga ayah mendapat tempat yang indah disana,,, Amiin
    

**buat ibu terhebat saya
            Love you so...
read more "Ini tentang ayah saya"

Minggu, 27 Maret 2011

Ketika Bedah Caesar Menjadi Pilihan

Melahirkan adalah proses akhir dari kehamilan yang sukses manusia, yang menghasilkan seorang bayi yang dilahirkan.  Dan melahirkan secara normal adalah impian setiap ibu hamil, bahkan akan terencana jauh sebelum kehamilan itu sendiri.
Ketika kita bertemu dengan teman, keluarga, atau siapapun yang tengah hamil dan kita menanyakan, ingin melahirkan normal atau di operasi? Jawabnya, normal!
  Mungkin karena doktrin, bahwa seorang ibu akan benar-benar menjadi ''sempurna'' ketika ia mampu berjuang dalam pergulatan rasa sakit yang teramat sangat, dengan pertaruhan hidup dan mati, yaitu melahirkan secara normal ( padahal saya yakin ''itu'' bukan satu-satunya cara untuk bisa mempertahankan predikat  ibu sempurna ).
Bahwa melahirkan normal menjadi impian hampir semua ibu hamil, itu tidak bisa dipungkiri,
saya tidak ingin  mengatakan semua, karena  ternyata ada juga yang tetap ingin di''caesar'' kendati tidak ada indikasi apa-apa yang menyebabkan dia tidak bisa melahirkan ''normal.
Beberapa tahun yang lalu seorang teman saya bercerita pada saya ( pada saat itu berbarengan dengan kehamilan saya yang kedua, dan kehamilan yang pertama bagi teman saya itu), dia mengatakan bahwa dia tidak ingin melahirkan normal, alasannya, karena takut sakit!!!.
Saya berusaha meyakinkan dia bahwa melahirkan itu adalah sesuatu yang sangat lumrah bagi wanita terlebih melahirkan secara normal, ini bukan suatu penyakit, kendati untuk melewatinya memang benar-benar sakit. Saya bilang, anggep saja seperti bisul (iiihh,,,sinonimnya kok cetek amat yak...) yang pasti akan membesar, pecah dan setelahnya menjadi ringan.
Anda tidak akan percaya dengan keajaiban besar yang bisa anda lewati dengan sukses,,, dimana seorang anak adam dan bernyawa, keluar dari rahim anda sendiri, yang sebelumnya telah lelah anda rawat dan melekat erat dalam jasad anda, selama 9 bulan, bukan waktu yang singkat, mulai dari setetes mani, menjadi segumpal darah, lalu berkembang menjadi,janin yang dari hari kehari semakin membesar, tak lupa harus disuplai dengan berbagai makanan bergizi, protein tinggi, tentu saja dengan pemeriksaan rutin kedokter kandungan atau bidan, sekedar ingin tahu perkembangan, dan kesehatannya.... Yaah, makhluq yang semakin hari semakin keras saja menendang dinding perut anda, semakin membuat anda susah bernafas panjang, penasaran, seperti apa dia nantinya, dan tentu saja selalu mendoa, agar kelak menjadi anak sholeh yang selalu membanggakan semua orang.... AMAZING... (Insyaallah, kita semua bisa melewati ini...)

Tapi dia (teman saya) tetap bersikeras, selalu dengan alasan takut, ''toh juga dibayarin kantor suami ini'', begitu selorohnya, Ya sudahlah! akhirnya dia melewati bedah caesar.
Lanjut, 3 tahun berselang, teman saya ini hamil lagi, kali ini dia ingin sekali melahirkan normal, ''pengen juga sih ngerasain jadi ibu sempurna'' hmmm,,,alasan klasik!
Tapi apa boleh dikata, ternyata bayi yang dikandungnya kembar dan dengan posisi berbalik, artinya, janin yang satu dengan posisi kepala diatas yg satunya dibawah, dan dengan tegas dokter bilang "sangat riskan untuk bisa lahir normal'' Ironis... Sikembarpun lahir dengan proses yang sama, Caesar...  
Tiga anak dengan kelamin yang sama, perempuan...Diapun ingin hamil lagi, berharap kali ini anaknya laki-laki, dan masih dengan harapan juga ingin melahirkan normal. masuk usia kehamilanya ke 9 bln, takdir berkata lain, Tensi darahnya tinggi, akhirnya sudah bisa ditebak, caesar lagi, tapi masih beruntung, kali ini anaknya laki-laki... namun tekadnya untuk bisa melahirkan normalpun sia-sia. (anak bungsunya lahir, bertepatan dengan kelahiran anak saya yang ke-empat, bedanya, saya tetap bisa melahirkan normal,,,Alhamdulillah!!)
Begitulah, semua tidak pernah lepas dari kehendak ALLAH semata....

Well, setelah berpanjang lebar dengan kondisi teman saya tsb,
masih banyak lagi penyebab seseorang harus menjalani operasi caesar : posisi nyungsang, tidak ada bukaan, kontraksi tidak teratur, kehabisan air ketuban, faktor usia, rangka pinggul kecil ( mungkin klo yg ini emang kudu dioperasi, jika janin lebih besar drpada rangka pinggul) dan masih banyak lagi.
Tapi, terlepas dari keadaan diatas, ada juga seorang ibu yang harus menjalani caesar karena kepentingan bisnis dokter itu sendiri ( misalnya, karena klinik bersalin adalah milik pribadi dokter tersebut, isu ini beredar dan nyata terjadi pada sebuah klinik yang berjarak hanya beberapa ratus meter dari tempat tinggal saya) Jadi dengan sedikit saja indikasi yang agak menyulitkan proses kelahiran normal, maka si dokter  langsung dengan tindakan singkat "harus di caesar''.
Ini terjadi pada teman saya yang lain, seminggu menjelang HPL, dokter mengatakan bahwa janin tidak tepat berada diruang obligasi, beberapa derajat miring ke kanan, padahal semenjak kehamilan 0-9bln dia memeriksa pd dokter yg sama ( dokter yang saya sebut diatas) dan sudah bisa ditebak vonisnya, dengan rasa sedih dia bercerita tentang ketakutannya menghadapi operasi, saya menyarankannya untuk mendatangi seorang dukun urut bayi, dan diapun setuju, saya mengajaknya ke seorang dukun urut bayi untuk sekedar di''benarkan'' posisi janinnya, (karena entah kenapa, saya selalu merasa perlu melakukan ini ''urut hamil'', bahkan sampai kehamilan ke-empat) menurut si dukun urut, memang benar janin agak miring tapi masih bisa di''benerin'', dan sama sekali tidak perlu operasi...Lega sekali rasanya, ketika melihat dia bisa melahirkan normal tepat pada waktu yang sudah diperkirakan...meskipun dia harus pindah ke dokter kandungan yang lain.
Kegigihan, kesiapan, dan keberanian menghadapi ''kelahiran'' juga berpengaruh kuat pada proses kelahiran itu sendiri, ada ibu yang menyerah begitu saja dengan keputusan dokter, tapi tidak sedikit yang merasa perlu melakukan  ''second opinion'', ada juga yang dengan amat sangat kuat melewati masa sakit mejelang kelahiran dan dengan tegas menolak saran dokter untuk di''caesar'' kendati merasakan sakit sampai tiga hari, bayangkan, dengan kontraksi terus-menerus, sakit yang luar biasa, sampai tiga hari, Subhaanallah!! karena dia sangat yakin bahwa dia bisa melahirkan normal (salut buat mama Sarah, perjuangan yang luar biasa! ).

Melahirkan, apapun jalannya ( beruntung sekali rasanya saya bisa melewati empat kali proses kelahiran dan semua normal, Alhamdulillah, karunia terindah yang Allah percayakan buat saya) tetap merupakan kemulyaan bagi seorang wanita, dimana Allah sudah nyata menjanjikan syahid bagi wanita yang melahirkan.
Peran aktif suami,  kasih sayang, perhatian, dan dukungan penuh akan sangat membantu selama proses kehamilan sampai kelahiran, dan yang menjadi PR kita selanjutnya adalah bagaimana kita  bisa sepenuhnya melewati, menikmati, mensyukuri peran kita setelahnya yaitu menjadi ibu yang tentunya tidak mudah.
     ============================================================

Tulisan ini dibuat, tidak berdasar pada karya ilmiyah, hanya berdasar pada pengalaman pribadi, dan teman, jadi, jika ada kesalahan dan kekeliruan mohon diluruskan, semoga bisa menjadi pelajaran buat semua.

     "Buat teman, saudara, kerabat yang saat ini tengah hamil, atau setidaknya ingin hamil lagi,
       semoga Allah memudahkan, melancarkan, dan menyehatkan, kondisi ibu juga bayinya,
       Dan menjadikan anak-anak kita, anak yang sholeh dan sholehah, selalu menjadi ''qurrataa'yun''
        Dan menjadi aset berharga, pendo'a handal kita setelah ketidakberadaan kita. Amien
           Rabbanaahablanaaminashshoolihiin.....
read more "Ketika Bedah Caesar Menjadi Pilihan"

Senin, 21 Maret 2011

Telepon Nyasar

Pagi, saat tersibuk bagi saya terutama pada hari sibuk: senin-jum'at kadang sampai minggu (kalo anakku sedang ada kompetisi bola, dan giliran main pagi), bangun jam 5 subuh, ga boleh ada kata malas utk saat ini. Malas pada jam segini, bisa berantakan semua sampai sore. bangun, sholat subuh, do'a-do'a dikit...(Ampuni Ya Allah, hamba ga bisa berlama-lama utk jam segini, please!),
bangunin anak, menyiapkan sarapan alakadarnya, kenapa alakadar?, karena terkadang  cuma pake ayam goreng yg udah disiapin dr malam, ato sekedar dadar telor, nughet, mie pake telor, malah kadang-kadang sisa lauk semalam, bagi kami sarapan bukan makan besar yang harus komplit, yang penting perut terisi, dan anak-anak ga loyo nerima pelajaran, itu sudah cukup ( iya, saya tau paham ini salah, tapi anak-anak biasanya juga ga mau klo pagi-pagi harus makan lengkap bahkan dengan sambel goreng...:untuk memudahkan mamahnya juga siiiihh, hehehe).
Tiga orang anak dengan tiga jam masuk sekolah yg berbeda ( yang paling kecil belum mulai sekolah), anak yang kedua berangkat jam 06:00, sekolah di DKI yang notabene lonceng berbunyi jam 06:30, dan berhubung jarak sekolah dgn rumah lumayan jauh jadi berangkat harus lebih pagi. Anak saya yang pertama berangkat jam 06:30, setengah jam lebih lambat karena ketentuan DIKNAS Bekasi masih jam 07:00 untuk bel masuk. Lalu anak saya yang ketiga, berangkat jam 07:00, karena sekolah di SDIT, masuknya jam 07:15.


Pagi itu, hampir setahun yang lalu ( bulan apa saya lupa, tapi inget hari kamis), semua berjalan seperti biasa, menyiapkan segalanya, nganter sekolah, mampir kepasar dulu, belanja untuk keperluan dapur, sampai pada saat saya pulang nganter sekolah, saya tengah bersiap-siap untuk menyuapi si bungsu, sikecil rada susah makan, jadi kudu pinter-pinter mengalihkan perhatiannya, misalnya mesti ma'em sambil nonton TV, baru aja duduk, nyalain TV, telepon bunyi dan terjadi dialog antara saya dengan ''sipenelepon'' (sebut aja begitu)......

KRRRRIIINGG, smp 3kali...
Saya: haloh,,,, ( rada males, siapa juga pagi-pagi udh mengganggu, suami? ga mungkin sepagi ini..)

Sipenelepon: Halo Mami,,,( mami?? sejak kapan sy berubah nama? belum sempat sy nanya...besuara lagi)
                    Haloo,,,ini Mi, dari yang semalem pesen anak itu, dia masih sama saya sekarang, tapi biarin aja dulu deh   disini, biar istirahat, kasian sepertinya dia kecapekan, mau saya telponin ke sekolahnya, mintai ijin, ga usah masuk sekolah aja hari ini, mau saya pake lagi nanti sore, saya mau tinggal kerja dulu....
( ni orang nyerocos ga ada titik koma,,,)

Saya: Halo ini dari siapa,,,( segitu panjangnya dia ngomong, sy blm sempat tanya, dan saya belum mengerti arah pembicaraannya kemana,,,)

Sipenelepon: Ini dari Om Dedy Mi,,, yang kemaren booking anak SMP itu loh,

Saya: anak SMP mana? (sepertinya saya mulai paham arah bicaranya)

Sipenelepon: katanya sih, dari SMP Pelita Harapan Bekasi, baru kls 2, kayaknya masih 14thn....
(dia lanjut lagi)  begini loh Mi, saya kan pake dr semaleman, mungkin dia capek, jadi bangun tidur lemah banget, apalagi saya senengnya ''main belakang'' mungkin dia ga kuat,,,,
(Astaghfirullah,,,,saya seperti di tampar, seperti merasakan gempa dahsyat berkekuatan super, semuayg sy lihat tiba-tiba saja menjadi bergejolak, beterbangan liar tanpa arah,  mata menjadi gelap, pusing, dan mungkin sesaat lagi saya pingsan, tak sanggup berkata-kata...**alah lebay lu** tapi sumpah, saya gemeter, ==bahkan saat nulis ''ini''pun sempat bergetar==
Ya Allah, makhluk apa yg menelepon saya pagi-pagi begini, disaat saya sedang ini berduaan dengan sikecil, disaat saya ingin menemaninya menonton kartun kesayangannya,,,,  saya berharap ''ini'' oarang gila, yg berhalusinasi tinggi,,, atau orang iseng yang hanya sekedar ingin membuang bonus pulsa,sesaat kemudian, dia lanjut....)
Gini Mi, biarin aja dulu dia istirahat, saya mau telponin ke sekolahnya, mau mintai ijin, nanti sore mau saya pake lagi, masalah harga nanti saya hubungi mami lagi, (Astaghfirullah,,,saya ga tau ini ''istighfar yg keberapa), kalo dipake terus kasian juga masih terlalu kecil,,,( nah elo kagak punya otak, udh tau anak kecil, lu embat juga,,,pikirku...)
Saya: terus sekarang maunya apa?? ( saya pura-pura menjadi mami beneran)
Sipenelepon: ya cuma ngasi tau aja, takutnya dicari...(persis seperti kalimatnya diatas, dia bahkan mengulang sampai 3 kali,, penegasan! ya, penegasan,,,dan jika berlama-lama ini bisa membuat saya pingsan beneran)

Saya: ini dari siapa tadi, maaf...? (saya sudah sangat muak, mendengar ocehannya, dan ingin  bersegera mengakhiri pembcaraan ''laknat'' ini...

Spenelepon : dari Om Dedy,,,(sepertinya dia ingin nyerocos lagi, tapi saya buru-buru memotong pembicaraan...)

Saya: maaf pak, bapak dari tadi bicara seperti orang yg tidak lahir dari rahim, apa bapak punya ibu? anak perempuan, ato saudara perempuan??? bapak sudah salah sambung...
Sipenelepon: Oh, eh, eeee,,,aaa,,,klik!!!
(dengan terbata-bata mungkin kaget, krn sudah terlanjur ngomong banyak) telepon ditutup....

AllahuAkbar,,, saya masih gemetar, seperti itukah? anak kls 2 Smp, umur baru 14thn, dgn laki-laki yg saya perkirakan berusia 40-45thn, bukan saja berhidung belang tapi berkelakuan seperti anjing belang, pikiran saya melayang, kemana orangtua si anak SMP tersebut, tidakkah mereka tahu bahwa anaknya menjadi santapan lezat para anjing belang?? Lalu apa yang dipikirkan si anak SMP tadi,sehingga dengan mudah menjual kehormatannya kendati usianya masih sangat belia?, karena uang? ingin punya ponsel canggih?, ingin pakaian mewah yg orangtuanya tak mampu penuhi? atau mungkin ingin memakai 'kawat gigi'', biar terlihat seperti orang kaya, sayapun sibuk mengira-ngira... dalam galau saya sempat mendoa,
Ya Allah, beri jalan anak itu supaya tidak jadi di''pake'' nanti sore....!

Na'udzubillahimindzalik,,,!!! Saya langsung teringat dengan anak-anak saya yang sedang berada di sekolah, mereka bangun pagi, sholat subuh, sarapan, lalu berangkat sekolah tak lupa cium tangan, tentunya disertai dengan doa, semoga mereka dimudahkan dalam menyerap pelajaran yg disampaikan guru, dan semoga segala ilmu yg dipelajari memberi manfaat sebesar-besarnya buat kehidupan mereka nanti,,, dan saya yakin semua ibu juga akan mengharapkan hal yang sama bagi anak-anak mereka, begitupun dengan ibu  ''sianakSMP'' diatas...
Pagi itu, Allah membuka mata saya, bahwa beban menjadi orangtua memang berat, tanggung jawab tak terhingga, tak berbatas,,,, Semoga Allah selalu andil menjaga mereka...Amien
read more "Telepon Nyasar"

Sabtu, 19 Maret 2011

Do'a Untuk Anak-anakku....

      Bertumbuhlah kalian,,,
menjadi apa saja yang kalian mau
memberi apa saja yang kalian buat
menjalani segala yang mestinya membuat kalian kuat
melakukan yang terbaik yang kalian punya
Lepaskan kulit tubuhku ketika kalian tidak sanggup menghadapi terik matahari sendiri
Lucuti semua yang ada padaku, sekiranya mampu membuat kalian menjadi tegar
Karena segala asa, segala rasa, segala upaya, semata untuk keberadaan kalian.
Jangan pernah ragu untuk melangkah, berjalan, berlari atau melompat sekalipun,
Karena aku tahu, kalian pasti mengerti setiap gerak bijak yang baik bagi kalian.
Mungkin aku egois, karena selalu menuntut yang baik saja dari kalian,
dan kadang seringkali mengabaikan pembangkangan yang tidak lain hanya
karena ingin perhatian lebih.
Maafkan jika aku bukan ibu yang pintar buat kalian, bukan teman yang nyaman untuk berbagi,
dan bukan guru yang ideal untuk  jadi panutan, karena aku memang bukan ibu dengan pendidikan tinggi
untuk menghadapi kalian,
   Ibu yang  selalu belajar dari keberadaan kalian....
Tapi dengarlah,,, doaku tidak pernah putus dalam jiwa...
Jangan tanya berapa kali doa "Rabbiihabliiminashshoolihiin" aku ucapkan setiap hari
Seberapa sering nama-nama kalian aku sebut dalam setiap lantunan ayat-ayat-NYA yg aku baca,
Bahkan harapan dan pengharapan terkadang terlintas begitu saja dalam setiap rakaat sholatku,
Mungkin itu salah, tapi begitulah aku tidak pernah bisa menolak ajakan lidah dan hati untuk selalu berucap yang sama setiap saat.
Menyesalkah kalian demi mendapati seorang ibu yang hanya berada dirumah setiap waktu?
Ibu yang bahkan sekedar untuk membeli garam saja mesti meminta,
Ibu yang tidak pintar seperti orang, bukan ibu dengan ilmu dan titel yang berjejer-jejer.
Demi Allah, tak satupun sanggup aku lewati kecuali dengan campur tangan-NYA
Tapi tahukah kalian, bahwa  doaku tidak pernah putus, bahkan sampai ketika aku mencuci beras untuk makan kalian,
Sholawat selalui mengiringi setiap yang tersaji, juga doa dan harapan, semoga apa yang kalian nikamati
menjadi berkah tak terhingga, sebagai bekal kalian merangkai hari, menggapai asa, semua untuk kalian...
Dengarlah anak-anakku....
Maafkan ibu jika terkadang membuat kalian terluka, jika tidak sanggup meghapus air mata kalian,
bahkan tidak mampu membalut luka kalian.
Satu hal lagi yang harus kalian tahu, bahwa ketika kalian terluka, maka aku yang pertama merasakan sakit
Ketika kalian menangis, aku yang terlebih dahulu mengeluarkan air mata,
Bahkan tenggorokanku tidak akan pernah sanggup menelan apapun,
jika kalian belum kenyang terlebih dahulu.
Maukah kalian berjanji...?
Untuk tetap menjadikan ALLAH SWT sebagai sandaran yang haqiqi dalam hidup kalian
Menjadikan MUHAMMAD SAW selalu menjadi panutan dalam menjalani hari-hari kalian
Tetap berpegang teguh pada ALQUR'AN dan SUNNAH sebagai pedoman yang tak terbantahkan
Terkadang aku naif, bangun sholat tengah malam hanya meminta Ridho dan kebaikan untuk kalian saja
Sehingga sering lupa meminta untuk diri sendiri,,, tapi aku tahu ALLAH Maha Baik,
dan tidak akan pernah abai untuk mendengar doa-doaku dan menyertakan kebaikan untukku dan kalian
Karena jika kalian menjadi baik, maka kebaikan pula yang akan aku dapat.
Bukankah bekal yang akan mengikuti  kita sampai akherat adalah anak-anak yang sholeh?
Selebihnya adalah amal dan sedekah, yang lain tidak!
Dan pada akhirnya, doa-doa panjang ini untuk kalian,,,
Ya Rabbanaa,,,, Yang Maha Pengampun...
   Ampunkan dosa-dosaku, Orang tuaku, Suamiku, Anak-anakku, saudaraku,
dan orang-orang yang aku kasihi, dengan sebesar-besar ampunan, Seutuhnya!
Jadikan anak-anakku diantara orang-orang yang selalu Engkau kasihi,
menjadi bagian mukmin yang selalu Engkau Ridhoi.
Yaa Rabbanaa,,, Dzat Yang di tangan-NYA segala ketentuan Qadha' dan Qadar...
Tentukan bagi mereka, yang terbaik dari ketentuan-MU yang baik.
Tunjukkan bagi mereka Jalan-MU bahkan tanpa perlu mereka mencari.
Berikan kemudahan bagi mereka dalam meniti kehidupan,
Luaskan pintu rezeki, cukupkan mereka, serta selalu jadikan mereka hamba yang selalu bersyukur
Ya Rabbanaa,,,Yang Maha Kasih...
Eratkan tali silaturrahim diantara mereka,
Tetapkan ukhuwah menjadi titian mereka menjalani Qadar-MU
Senantiasakan ucapan lemah-lembut dan perasaan kasih sayang tak terhingga diantara mereka
Yaa Rabbanaa,,, Aku menyayangi mereka, sungguh!
Bahkan ketika aku tidak sanggup mencintai diriku sendiri.
Jika keberadaan mereka adalah ujian, mudahkan aku dalm memikul Ujian-MU
Karena aku tahu, Engkau tidak akan pernah memberi ujian tanpa Engkau perhitungkan pula kemampuan kami memikulnya.
    Anak-anakku.... Berusahalah kalian untuk menjadi sebaik-baik ummat
Yang selalu bersabar atas kekurangan dan senantiasa bersyukur atas kelebihan.....
 "Rabbanaa hablanaa min azwaajina wa dzurriyyatinaa qurrataa'yun waj'alnaa lil muttaqiina imaamaa...'"
           Amien Ya Rabbal'aalamiin....


***Untuk garuda-garuda kecilku
       terbanglah kalian mencapai anganmu
     Setinggi mungkin,,, sejauh mungkin...!
read more "Do'a Untuk Anak-anakku...."

Untuk diriku, dirimu, dan yg lainnya....

Pernahkah kalian bertemu dgn orang lain, bukan orang asing, sebenarnya kenal, tapi tatapannya, cara pandangnya, sikap menyapanya, ANEH...!!! melihat dr atas kebawah dengan dahi mengernyit, sepertinya dia mau bilang,,,"elu bukan dr golongan gue, jadi gue ga pantes ngobrol sama elu''..... sumpah saya amat sangat merasa tak dianggap?
 Hallooooww.... Buat kamu yg merasa dunia kamu paling gemerlap, dan buat kamu yg merasa masa depan akheratnya paling husnulkhotimah....ato buat kamu yg merasa jidat kamu paling licin... Jangan pernah merasa lebih bermartabat daripada org lain, hanya karena memiliki "SESUATU" yg menurutmu pantes untuk membuatmu menjadi angkuh, atau jgn sampai merasa org lain tdk sempurna hanya karena tdk melakukan doa Qunut pd wkt shubuh, jangan juga menganggap sepele org yg tdk menutup aurat dengan jilbab yg selebar hijabmu, atau jgn jg ... membandingkan dirimu dgn org yg titelnya tdk berjejer-jejer seperti titelmu...jgn pernah takabbur, karena org bejat hari ini  blm tentu masuk neraka pada akhirnya...dan bukan tidak mungkin seorang alim akan mengalami  kebalikannya,,,
Mari kita mendoa, semoga ALLAH senatiasa menjauhkan kita dari sifat riya' dan sombong, senatiasa menjadi hamba yg tau harus berterima kasih kepada siapa dan untuk apa... Allahumma, jadikan Ridho-MU menjadi prioritas utama dlm hidup kami... (untuk diriku, dirimu dan yg lainnya...)
read more "Untuk diriku, dirimu, dan yg lainnya...."

My first

Nama saya Fariha Munir, panjangnya Farihatun Munir ( orang seringkali salah menyebut kata pertama) entahlah., padahal bagi saya nama itu biasa saja, tapi orang bilang sedikit aneh, sayapun bangga dengan nama itu, karena warisan indah dr seorang ayah yg sampai sekarang saya belum bisa mengingat apa yg bisa saya kenang dr beliau, karena beliau meninggalkan saya (kami) jauh sebelum saya sempat mengenal alfhabet, seorang yang sangat saya rindui sampai detik ini, seorang yg akan selalu saya ingat setiap kali menyebut nama sendiri, karena namanya juga ada dlm urutan namaku, dan setiap kali mengingat, setiap kali itu pula nurani tiba-tiba menjadi mellow, ah sudahlah... ( mungkin suatu saat nanti saya akan menulis panjang tentang beliau, Insyaallah!) saya seorang ibu dari 4 orang anak, seorang pengangguran yang notabene selalu sibuk, ibu yang selalu merasa kekurangan waktu padahal banyak waktu terbuat sia-sia hanya untuk sesuatu yg tak bermanfaat, makhluq Allah yg bodoh tapi kadang-kadang pura-pura pintar, ibu yang cerewet tapi sok bijak, daan  masih sangat banyak lagi hal negatif dari seorang ''Fariha''...tapi, satu hal positif dari saya,,,bahwa saya selalu ingin belajar lebih banyak tentang segala hal dan ingin menjalin silaturrahim dengan seluas-luasnya kalangan, salah satunya dengan hantaran blog ini...(mungkin akan sangat ''cetek'', dan tidak layak disebut blog, tak apalah setidaknya saya sudah berusaha, heheheh)...semoga bermanfaat..."buat saya tentunya''
read more "My first"