Ditengah keramaian jalan yang macet, saat berangkat sekolah tepat jam 7 pagi. Nayla anak perempuan saya satu-satunya nyeletuk sambil membenarkan jilbabnya.
"Mah, emang orang itu ga punya rumah ya Mah? kok setiap hari disitu terus??"
Ini bukan kali pertama dia menanyakan hal ini, berkali-kali bahkan hampir setiap kali dia melihat laki-laki itu,
"Mungkin punya, tapi udah biasa dijalan kali" saya menjawab sekenanya,
"Emang dia ga makan apa Mah, siapa yang kasi makan ya Mah, Eh, liat deh Mah,,, posisi tidurnya juga persis kayak kemaren Mah, ga berubah-berubah, jangan-jangan dia meninggal Mah," dia masih terus saja bertanya, nyaris tanpa jeda.
"Aduuh, nanyanya ntar aja ya Nak, macet nih,, kalo ngomong terus jadi ga konsentrasi Mamah,,! Nayla diam, tapi saya tahu dia pasti masih penasaran dengan jawaban saya. Sayapun berjanji menjelaskan nanti.
Nayla memang selalu kritis setiap kali bertanya sesuatu, harus dijawab sampai puas. Usianya baru 8 tahun, kelas 2 di sebuah SDIT, jarak dari rumah ke sekolahnya sekitar 3 km, saya mengantar dan menjemputnya sekolah setiap hari. Meski jalanan ramai, saya selalu berusaha mengantarnya tepat waktu, jarak 3 km, saya tempuh kadang sampai 10-15 menitan kalau sudah terjebak macet. Rutinitas yang kadang bikin bosan, MACET!
Kondisi jalan pertigaan pada jam segini ini, selalu ramai, orang-orang berangkat kerja, anak-anak berangkat sekolah, ibu-ibu yang mengantar anaknya sekolah seperti saya, pekerja, pedagang, dengan ragam kendaraan, motor, mobil, sepeda, sampai becak, bahkan ada juga pejalan kaki. Semua tumpah jadi satu, sesak dipertigaan.
Sebenarnya komplek perumahan saya bukan jalan umum, maksudnya bukan jalan raya, tapi karena jalan utama sering macet, jadilah orang-orang yang selalu tergesa-gesa dikejar waktu tumpah memenuhi jalan alternatif, termasuk jalan di komplek saya.
Semua seakan dipertuan oleh waktu, tak ada yang mau mengalah apalagi mau terlambat, sekecil apapun celah pasti diburu dan menyalip, SELAMAT! tak peduli orang yang disalip menggerutu, bahkan mengumpat, yang penting kendaraan berhasil keluar dari cengkraman macet, Yuuppss, ,Horrayyy... siapa cepat membaca peluang, maka dia yang lebih cepat sampai tujuan, tak ada yang mau mengalah...!!
Ini baru jalan di dalam komplek perumahan, apalagi jalan raya ya, jalan protokol, atau apalah namanya.
Well, tapi ini bukan tentang Nayla atau fenomena jalanan macet, tapi tentang seorang laki-laki dingin tak bergeming, yang selalu jadi bahan perbincangan saya dengan Nayla ditengah kemacetan.
Titik rawan macet, dipersimpangan jalan, pertigaan tepatnya, hanya berjarak 20meter dari tempat tidur laki-laki yang dibicarakan anakku tadi. Tempat tidur?? Padahal ini kan pinggir jalan?
Ya, Laki-laki setengah baya, saya perkirakan berusia 30-an tahun, setiap hari, setiap waktu ada disitu, didepan sebuah bangunan setengah jadi, yang hanya berbentuk kotak dengan teras kecil berukuran 1x2 meter, dengan atap yang sedikit menjorok ke depan,belum disemen, hanya berupa peluran kasar, tanpa alas, berdebu dan kotor, entah sejak kapan laki-laki dingin itu berada disitu...
Disamping bangunan ini adalah tanah kosong, yang kadang digunakan oleh sebagian orang sebagai tempat pembuangan sampah, tentunya orang yang tidak bertanggung jawab, bagaimana tidak, tidak kurang dari tiga buah plang triplek usang terpajang disitu, bertuliskan "dilarang buang sampah disini", atau "buang sampah disini berarti benjol", bahkan sampai, "yang buang sampah disini sama dengan anjing"...
Sadis memang, tapi terkadang orang lebih nyaman disamakan seperti itu daripada mengindahkan larangan tersebut.
Jika hujan turun, tempat ini akan menggenang, karena tidak semua orang sadar tentang saluran air yang benar, sampah menyebar, bau menyengat. Nyamuk, lalat, kecoa, tikus dan segala binatang yang memang sudah ditakdirkan berada ditempat seperti ini, akan berkembang biak dengan aktif.
Selaksa bulan madu bagi mereka.
Dan disini, laki-laki dingin itu menghabiskan hari-harinya, tak peduli ribuan orang lalu-lalang setiap detik setiap hari. Dia selalu saja tertidur dengan posisi telungkup setengah miring, meletakkan kepalanya begitu saja diatas peluran kasar tak berbantal, dengan pikiran yang hanya dia dan Tuhannya saja yang bisa membacanya, Dia hanya diam, tak bergerak.
Entah kenapa, setiap kali melewati jalan ini, saya selalu menyempatkan diri menoleh kearahnya, miris,,, baju hitam yang mungkin awalnya putih, dengan bentuk yang sudah tidak beraturan, kain compang-camping bekas spanduk usang, kadang tersingkap tertiup angin sampai nyaris menelanjanginya. Tubuh kurus kering, kulit gelap,jari kaki yang sudah tidak jelas bentuknya, melebar, dengan kuku yang panjang patah-patah, kumis, jenggot, gigi...Masyaallah, semua berantakan.
Rambutnya panjang,tidak lagi kusut tapi gimbal, mungkin karena tidak pernah tersentuh air sama sekali, berbulan-bulan, bertahun-tahun, satu dasawarsa, dua, tiga, bahkan mungkin seumur hidupnya.
Sebenarnya siapa dia sebelum ini? Dimana rumahnya? Siapa keluarganya? anaknya? Istrinya? orang tuanya? Apa gerangan dia hingga jadi seperti ini, beban apa yang ditanggungnya? Sungguh berat!!!
Beberapa hari yang lalu, seperti biasa saya melewati jalan itu, saya memperlambat laju motor saya, jalan tidak terlalu ramai, sesaat saya bisa memperhatikannya lebih dalam. Laki-laki dingin itu tengah terbaring, dengan posisi telentang, tangannya dibebankan diatas kepalanya, kakinya menyilang diatas kaki yang lain, matanya nanar menatap kelangit, tatapan kosong, dingin dan tak bergeming...
Ya Tuhan,,,apa maksud Engkau menciptakan makhluq malang ini??
Bukankah, sangat mudah bagi-MU mambuatnya seperti makhluq-MU yang lain?
Pikiran saya berkecamuk,,miris... Andai saya bisa, saya ingin membwanya pulang, membersihkan badannya, memotong rambut gimbalnya, memotong kuku-kukunya, memakaikan baju yang bersih, minyak wangi. Menjadikannya makhluq sebersih-bersihnya, setelah itu saya akan bertanya, "kekecewaan apa yang membuatmu seperti ini??"
"Tiin, tiinn,,tiinnn,,,teriakan klakson membuyarkan pikiran saya.Uuppss...
Sekali waktu saya pernah melewati jalan itu malam hari, Laki-laki dingin itu tetap terbujur disitu, seperti biasa, dengan posisi telungkup, kali ini kain yang menutup tubuhnya tersingkap dan dia benar-benar telanjang. Yaa Tuhan, jika saja dia memiliki urat malu, tentu dia tak akan membiarkan dirinya menjadi bahan olokan orang yang lalu-lalang.
Sesekali dia terlihat berdiri, memperhatikan orang yang sibuk mondar-mandir, kendaraan beraneka jenis,cekakak-cekikik anak sekolah yang kebut-kebutan saling salip satu sama lain, gerutu tukang becak yang tak pernah sanggup merubah nasibnya sendiri, tetap saja menggenjot becak dengan kedua kakinya, sopir angkot yang selalu menjadi raja jalanan, berjalan dan berhenti sesuka hati, demi sejumlah setoran, tukang ojek yang hanya wara-wiri saja dijalan, takut pulang karena kerap tanpa membawa uang buat anak- istrinya. Semua seolah menjadi rutinitas yang sangat lazim setiap hari, tapi laki-laki dingin itu tetap datar dengan pandangan kosong, tanpa senyum, apalagi suara, wajahnya hening....
Pagi ini cerah, kali ini saya melihat laki-laki dingin itu duduk disudut teras, dengan sebatang rokok ditangan, dia menghisap dalam-dalam rokoknya, terlihat sejenak asap mengepul diudara. Entah siapa yang telah berbaik hati berbagi rokok untuknya,setidaknya dia masih ingat, bagaimana menghisap rokok, kendati mungkin telah kehilangan kenikmatan akibat kerancuan hidupnya.
Ketika saya kembali, dia sudah dengan posisi semula, telungkup...Entah kapan dia merubah posisinya, saya tidak pernah melihatnya bergerak, selain tidur, berdiri dan duduk.
Cuaca akhir-akhir ini sering tidak bersahabat, dari panas tiba-tiba hujan.
Seperti pagi ini, tiba-tiba saja gelap, mendung, petir bersahutan, gerimis kecil, dan sejenak, bbrrrr....Hujan turun deras, Yah,, padahal baru saja ingin menyelesaikan tugas mencuciku.
Hujan makin deras, kencang tanpa ampun, Allahumma shayyiban nafi'an...
Sejam berlalu hujan masih lebat, jalanan didepan rumah mulai tergenang air, semata kaki, makin lama jadi setinggi betis, makin tinggi...
Pikiran saya melayang, Laki-laki dingin,,! ketika panas terik, malam gelap dengan serbuan ribuan nyamuk, Laki-laki itu tetap disitu, tapi ketika hujan deras begini, masih disitukah,,,?
Saya penasaran, dengan tanya yang membuncah, berteduh dimana dia? adakah selimut, atau setidaknya baju yang lebih layak?
Yaa Tuhan, bagaimana kalau tiba-tiba petir menyambarnya, saya semakin penasaran. Dan entah apa yang mendorong saya melakukan ini, saya harus pergi melihatnya, harus!!!
Dengan jas hujan lengkap saya menyalakan motor saya, Bismillah, menerobos hujan, dengan genangan air setinggi nyaris selutut.
Hujan semakin deras, petir menggelegar, tekad saya sudah bulat, saya harus pergi, demi melihat Laki-laki dingin itu.
Jalanan tidak terlalu ramai hanya beberapa kendaraan saja yang lewat, dari kejauhan saya melihat gundukan hitam ditempat yang sama, Robbi,,,semoga bukan dia pikirku, saya memperlambat laju motor saya,
dan Ya Allah, dia masih disitu, dengan posisi yang sama sekali tidak berubah, basah diguyur hujan, telungkup setengah miring,
Air hujan tanpa ampun telah mengguyurnya, dan menggenangi singgasananya, membasahi kepalanya, rambut gimbalnya, sebagian tubuhnya, air hujan telah menggenangi telinganya, rongga matanya, hidungnya, merasuki jiwanya yang dingin, menenggelamkan angan dan kegamangannya, dia masih disitu, dan tetap disitu, tak ada yang peduli!!!
Laki-laki dingin sedingin salju, membeku dalam kebekuan tak berkesudahan.
Entah sampai kapan ...
“Pena (catatan pahala dan dosa) diangkat (dibebaskan) dari 3 golongan, di antaranya: orang gila sampai dia sadar.” (HR.Abu Daud)
0 komentar:
Posting Komentar