Assalamu'alaikum,,, selamat pagi...
Semoga berkah hari ini menjadi bagian dari karunia Allah yang tak akan teringkari.
Subhaanallah, Maha Suci Allah yang menciptakan hidup dan mati.
Suka tidak suka, mau tidak mau, ketika Allah berkehendak maka bukan hal sulit bagi Allah untuk membuat sesuatu menjadi ada, seperti halnya membuatnya tiada. Tak ada kekuatan apapun yang bisa menolak, dan tidak ada perkara apapun yang sanggup menahannya.
Ketika anak ketiga saya berusia 2,5thn, saya membandingkannya dengan keberadaan saya, pada usia yang sama, saya sudah tidak lagi merasakan kasih sayang ayah saya.
Ketika saya berusia 25thn, saya menyelami keadaan ibu saya pada usia yg sama,dia harus merelakan orang yang selama ini menjadi satu-satunya tumpuan harapannya, partner yang diharapkan mampu menemaninya membesarkan anak-anaknya, penyuplai energi dan materi yang menjadi bekal kehidupannya selanjutnya dan tentu saja, jalan menuju syurga yang mana disetiap pelayanannya akan bernilai pahala. Ya, dia harus melepas ikhlas satu-satunya orang yang amat dia hormati dan cintai, saya memanggilnya AYAH....
Saya sering cemas ketika suami saya menginjak usia 39thn, ada ketakutan, ada trauma dan kekhawatiran, karena pada usia itu Allah memanggil ayah saya menghadap-NYA,( buat suami saya, miss you yah, jaga kesehatan yaa....!===bersyukur kami melewati semua, dan Allah masih bersedia memberi karunia sehat, nikmatnya rejeki,,,,semoga semua menjadi berkah, Amien! ) Saya tahu segala umur, jodoh, rezeki berada di tangan Allah, utuh! sehingga Taqdir sangat sulit ditebak.
Tidak terlalu banyak cerita yang bisa saya gambarkan tentang keberadaan ayah saya, karena untuk mengingat wajahnya saja teramat sulit saya lukiskan. Dia sangat tampan, gagah, tinggi kekar, kulit putih bersih, rambut ikal hitam mengkilat, dengan jenggot dan sedikit kumis menghiasi wajah maskulinnya (semoga ini tidak berlebihan) itu kata orang yang mengenalnya.
Dia sangat penyabar, santun dalam berkata-kata, sosok ayah yang sangat penyayang pada anak-anaknya, selalu menyempatkan diri bermain dengan anak-anaknya, mengajak kami berjalan-jalan, ke-empat anaknya sambil menggendong, bahkan dua anak sekaligus, menuntun, mengasuh, menyuapi, ''Yaa Allah,,,andai ini bisa terulang...!'' Sosok suami yang selalu mengerti dengan kesibukan istri, tak segan-segan ikut menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, bahkan sering mengambil-alih tugas istrinya ( yang kadang-kadang banyak suami mengabaikan hal iini) begitu cerita ibu saya. Ah,,,betapa bahagianya keluarga kecil ini.
Belum lagi ketika mendengar cerita teman-temannya, Ayah saya, sosok manusia cerdas hasil didikan alam (meminjam istilah Andrea Hirata utk Lintang), sekolah tidak tinggi tapi sanggup menggantikan peran guru ketika berhalangan masuk, mengajari teman-temannya. seorang humoris penuh setia kawan, sosok mandiri yang jauh dari kecukupan materi. Laki-laki sholeh yang sempurna, Rahimahullah!
Jujur saya iri mendengar kedekatan mereka (teman-teman ayah saya) dengan ayah saya, saya iri pada siapapun yang tahu banyak tentang ayah saya, saya iri pada siapapun yang sempat mengenal ayah saya, tapi saya selalu rindu untuk mendengar cerita-cerita mereka lagi, seperti kerinduan saya pada kehadiran ayah saya, saya tidak mengerti betapa Allah sangat tega mengambilnya ketika saya belum bisa mengingat sosoknya, mengapa Allah tidak membiarkan saya bisa mengenalnya lebih jauh dulu, membiarkan saya bisa bertumbuh lebih lama lagi dengan dia, saya ingin sekali berangkat sekolah diantar oleh ayah saya, bukankah sangat mudah bagi Allah untuk membiarkan ayah saya hidup lebih lama??? ( saya menangis, meratapi diri, tapi... Ampun Ya Allah, itu dulu,,,sebelum hamba mengetahui keajaiban taqdir...)
Tgl 4 Syawal 1400H, pukul 03:30, ayah saya bangun untuk makan sahur, dia sedang menjalankan puasa sunnah bulan syawal, dan ini hari ketiga-nya, ibu saya menyediakan dan menemaninya makan sahur, selesai sahur ayah saya berangkat ke masjid yang kebetulan tidak jauh dari rumah hanya berjarak 50meter, sampai selesai sholat subuh. Kebiasaan dikampung saya dulu, seusai sholat subuh jalan raya akan ramai oleh orang-orang yang baru pulang dari masjid, dimana jalan masih sepi kendaraan, orang-orang berjalan beriringan, sekedar bershalawat, sambil ngobrol dengan temannya atau sekedar meregangkan otot...(hmmm,,,kumpulan orang sholeh, insyaallah)
Ayah sayapun sering melakukan hal yang sama, tapi sebelumnya dia menyempatkan diri pulang kerumah dulu, mengambil anaknya yang sudah bangun... saat itu baru saya dan kakak saya yg kedua sudah bangun tidur, ayahpun mengajak kami jalan-jalan,,, (andai saja Allah memberi saya kesempatan utk bisa mengingat ini, mungkin ini akan jadi ''jalan-jalan'' termanis dalam masa kecil saya).
Pulang jalan-jalan itu, ayah mengajak kami tidur lagi, dan sebelumnya sempat berpesan pada ibu saya, ''tolong bangunkan saya agak siang, karena sedang puasa jadi tidak perlu sarapan dulu''...( hari itu adalah hari pertama ayah saya kerja setelah libur lebaran), ayah saya tidur dengan posisi miring, memeluk anak-anaknya.
Pukul 07:30, ibu saya membangunkan ayah saya,,, memanggil, menggerak-gerakkan badan, bahkan sampai memukul dengan guling... tak bergerak, tak ada suara, hening, ,, ibu saya gemetar, kaku, takut, kaget...
Allah sudah mengambilnya, memanggilnya menuju kantor yang lain, menemui singgasana yang lain,,,, dan tanpa sakit...!!!saya tidak bisa membayangkan perasaan ibu saya saat itu, saya tidak menangis, karena sejatinya saya tidak mengerti yang terjadi....
Ya Allah, kenapa Engkau mengambilnya cepat, kenapa Engkau tidak memberi kesempatan kami berjalan-jalan subuh lagi esok hari, kenapa Engkau tidak memberi kesempatan kami lebih lama lagi bersamanya,,, Ya Allah,,,ayah saya belum sempat mengantar kakak sulung saya menjelang hari pertama sekolahnya, ayah saya juga belum sempat mendaftarkan kakak kedua saya, masuk TK, saya belum sepenuhnya sanggup mengingat sosoknya, bahkan ayah saya belum sempat mengajari anak laki satu-satunya mulai menapaki kakinya ke tanah, dia masih terlalu kecil baru menginjak usia 7bln....
Tapi sekarang saya mengerti, Allah pasti lebih menyayangi beliau daripada kami anak-anaknya, Allah lebih bisa mencintai lebih dari cinta ibu saya, Allah jauh lebih memperhitungkan segalanya daripada perhitungan kami keluarganya,,,karena seutuhnya ayah saya adalah milik Allah, dan Allah lebih berhak atas apapun...!!!
**********************()()()()()()()()()()()()()()()()()**************************
Saya menulis posting ini bukan untuk bersedih-sedih, atau mengajak orang untuk lebih mengorek jauh tentang saya, tapi,,,saya lebih ingin mengingatkan diri saya dan kita semua, bahwa Taqdir Allah adalah mutlaq, DIA bisa mengambil apa saja yang menjadi milik kita, bahkan yang paling kita sayangi sekaligus....
Maka sayangi dan hargai apa yang menjadi milik kita hari ini,
Buat semua yang masih dikaruniai kesempatan bersama ayah,
sayangi beliau... hormati keberadaannya ...!!!
(jujur, saya iri pada kalian yang bahkan sudah menjadi orang tua tapi masih memiliki orang tua lengkap)......
Allahummaghfirlahu warhamhu wa 'aafihi wa'fuanhu...
Semoga ayah mendapat tempat yang indah disana,,, Amiin
**buat ibu terhebat saya
Love you so...
2 komentar:
Kenangan yg sangat manis---- Tentunya sang ayah sangat bangga jika membaca tulisan diatas :)
Terima kasih,,,
Posting Komentar